1 Kali Shalawat = 10 Kali Kebaikan

1 Kali Shalawat = 10 Kali Kebaikan


1 Kali Shalawat = 10 Kali Kebaikan - Shalawat merupakan rangkaian doa yang ditujukan kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam beserta keluarganya.

Amalan ini juga sekaligus menjadi salah satu bukti cinta seorang muslim kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Hal ini sudah diketahui secara umum di kalangan umat Islam. Bahkan para ulama juga mengatakan bahwa barang siapa yang mencintai sesuatu, maka ia akan sering menyebutnya. (Minhaajus Sunnatin Nabawiyyah (5/393) dan Raudhatul Muhibbiin hlm. 264).

Makna shalawat kepada nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah meminta kepada Allah agar Allah memuji dan mengagungkan beliau shallallahu 'alaihi wasallam di dunia dan akhirat. Di dunia dengan memuliakan penyebutan nama beliau shallallahu 'alaihi wasallam, memenangkan agama dan mengokohkan syariat Islam yang beliau bawa. Dan di akhirat dengan melipatgandakan pahala kebaikan beliau shallallahu 'alaihi wasallam, memudahkan syafaat beliau kepada umatnya dan menampakkan keutamaan beliau pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk. (Fathul Baari 11/156).

Perintah untuk bershalawat juga telah termaktub dalam al-Quran sebagaimana firman Allah berikut:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّۚ يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا  ٥٦

"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab [33]: 56).

Shalawat merupakan doa keselamatan dan keberkahan, bukan hanya untuk Rasul shallallahu 'alaihi wasallam, melainkan juga keselamatan dan keberkahan untuk orang yang bershalawat. Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنۡ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيۡهِ عَشۡرًا

"Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali." (H.R. Muslim No. 408).

Maksud dari kalimat "Allah akan bershalawat kepadanya" adalah bahwa Allah akan memberi rahmat serta melipatgandakan pahala amalnya.

Makna shalawat dari Allah kepada hamba-Nya adalah limpahan rahmat, ampunan, pujian, kemuliaan dan keberkahan dari Allah. (Zaadul Masiir 6/398).

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya Syarh Shahih Muslim (4/116) mengutip pendapat Al-Qadhi 'Iyadh yang menjelaskan maksud hadits ini, bahwa Allah akan memberinya rahmat dan melipatgandakan pahalnya, karena setiap satu kebaikan akan dibalas oleh Allah dengan sepuluh kali lipatnya, sebagaimana firman Allah:

مَن جَآءَ بِالۡحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشۡرُ أَمۡثَالِهَا

"Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya..." (QS. Al-An'am [6]: 160).

Hadits lain juga diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

مَنۡ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيۡهِ عَشۡرَ صَلَوَاتٍ وَحُطَّتۡ عَنۡهُ عَشۡرُ خَطِيئَاتٍ وَرُفِعَتۡ لَهُ عَشۡرُ دَرَجَاتٍ

"Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan mengucapkan shalawat kepadanya sepuluh kali, dihapuskan darinya sepuluh kesalahan, dan ia diangkat sepuluh derajat untuknya."
(H.R. An-Nasa'i No. 1297, Ibnu Hibban No. 904 dan al-Hakim No. 2018, dishahihkan oleh Ibnu Hibban, al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi, juga oleh Ibnu Hajar Al-Atsqalani dalam Fathul Baari (11/167) dan al-Albani dalam Shahihul Adabil Mufrad No. 643).

Di sini terlihat bahwa shalawat adalah sebuah amalan yang kecil dan ringan, namun memiliki keutamaan dan pahala yang besar.

Bagaimana lafaz shalawat?

Ada banyak variasi shalawat yang sudah umum dikenal di masyarakat. Lafaz yang paling sederhana adalah dengan mengucapkan kalimat "Shallallahu 'alaihi wasallam" setiap kali disebutkan nama Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Lafaz lain adalah dengan ucapan:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ

"Ya Allah, berikanlah kesejahteraan kepada Nabi Muhammad."

Ka'b bin Ujrah radhiallahu 'anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang bagaimana cara bershalawat, Nabi menjawab:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيۡتَ عَلَى إِبۡرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبۡرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكۡ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكۡتَ عَلَى إِبۡرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبۡرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

"Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkah Maha Terpuji dan Maha Mulia. Ya Allah berilah barakah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi barakah kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkah Maha Terpuji dan Maha Mulia." (H.R. Al-Bukhari No. 3370). Dalam riwayat Muslim No. 406 tanpa lafaz "wa 'ala ali Ibrahim."

Dari Abu Humaid As-Sa'idi radhiallahu 'anhu yang juga bertanya tentang bagaimana cara bershalawat, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزۡوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيۡتَ عَلَى آلِ إِبۡرَاهِيمَ وَبَارِكۡ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزۡوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكۡتَ عَلَى آلِ إِبۡرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ 
"Ya Allah, curahkanlah kesejahteraan kepada Muhammad, para istrinya dan keturunannya sebagaimana Engkau curahkan kepada keluarga Ibrahim. Ya Allah, curahkanlah keberkahan kepada Muhammad, istri-istrinya dan keturunannya, sebagaimana Engkau curahkan keberkahan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji Lagi Maha Agung." (H.R. Al-Bukhari No. 3369 dan 6360, Muslim No. 407, Abu Daud No. 979).

Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam kitab 'Aqidah At-Tauhid hlm. 158-159 menyebutkan beberapa manfaat dari bershalawat, beliau menyebutkan ada 40 manfaat. Di antaranya adalah:
  1. Shalawat merupakan bentuk ketaatan kepada perintah Allah.
  2. Mendapatkan 10 kali shalawat dari Allah bagi yang bershalawat sekali untuk beliau shallallahu 'alaihi wasallam.
  3. Diharapkan dikabulkannya do'a apabila didahului dengan shalawat.
  4. Shalawat merupakan sebab mendapatkan syafaat dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, jika bershalawat diiringi dengan permohonan kepada Allah agar memberikan washilah (kedudukan yang tinggi) kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di hari Kiamat.
  5. Shalawat merupakan sebab diampuninya dosa-dosa.
  6. Shalawat merupakan sebab Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab orang yang mengucapkan shalawat dan salam kepadanya.
Meskipun demikian, tidak dibenarkan mengkhususkan waktu maupun cara tertentu dalam bershalawat dan memuji Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kecuali berdasarkan dalil shahih dari Al-Quran dan As-Sunnah.

Mengucapkan shalawat untuk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam diperintahkan oleh syariat pada waktu-waktu yang diutamakan, baik yang hukumnya wajib atau sunnah muakkad.

Dalam kitab Jalaa'ul Afhaam, Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan 41 waktu terbaik untuk bershalawat. Beliau memulai dengan yang paling penting yakni ketika shalat di akhir tasyahhud. Di waktu tersebut para ulama sepakat tentang disyariatkannya shalawat untuk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, namun mereka berselisih tentang hukum wajibnya.

Di antara waktu lain yang beliau sebutkan adalah di akhir Qunut, kemudian saat khutbah, seperti khutbah Jum'at, hari raya dan istisqa', kemudian setelah menjawab muadzin, ketika berdo'a, ketika masuk dan keluar dari masjid, juga ketika menyebut nama beliau shallallahu 'alaihi wasallam.

Larangan Ghuluw dan Ithra` dalam memuji Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Ghuluw artinya berlebihan atau melampaui batas. Sebagaimana firman Allah:

لَا تَغۡلُواْ فِي دِينِكُمۡ

"Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu..." (QS. An-Nisa' [4]: 171).

Dan juga hadits dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمۡ وَالۡغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّهُ أَهۡلَكَ مَنۡ كَانَ قَبۡلَكُمۡ الۡغُلُوُّ فِي الدِّينِ

"Wahai manusia jauhkanlah kalian berlebih-lebihan dalam agama. Karena orang-orang sebelum kalian telah binasa sebab mereka berlebih-lebihan dalam agama." (H.R. Ibnu Majah No. 3029). Sanad hadits ini shahih menurut syarat Muslim. Dishahihkan pula oleh Imam an-Nawawi dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Sedangkan Ithra` artinya adalah berlebihan dan melampaui batas secara khusus dalam hal memuji Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu bahwa ia mendengar Umar bin Khatthab radhiallahu 'anhu berkata di atas mimbar:

سَمِعۡتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ لَا تُطۡرُونِي كَمَا أَطۡرَتۡ النَّصَارَى ابۡنَ مَرۡيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبۡدُهُ فَقُولُوا عَبۡدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah kalian melampaui batas dalam memujiku sebagaimana orang Nasrani mengkultuskan 'Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah 'abdullah wa rasuuluh' (hamba Allah dan utusan-Nya)." (H.R. Al-Bukhari No. 3445, at-Tirmidzi dalam Mukhtashar Asy-Syamaa`il Al-Muhammadiyyah No. 284, Ahmad (I/23, 24, 47, 55), Ad-Darimi (II/320) dan yang lainnya).

Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, diakui sebagai umatnya dan mendapatkan syafaatnya di hari akhir kelak.
Dan juga semoga kita selalu terjaga dan dapat terhindar dari segala bentuk ghuluw dalam urusan agama Islam ini.

* * *

0 Comments