7 Keutamaan Orang Berilmu

7 Keutamaan Orang Berilmu


7 Keutamaan Orang Berilmu - Ilmu adalah hal yang harus dimiliki oleh manusia, terutama bagi orang beriman. Seluruh ilmu pengetahuan yang ada di dunia ini bersumber dari Allah ‘Azza wa Jalla sang pemilik ilmu. Namun di antara sekian banyak ilmu yang ada, ilmu agama (Din Islam) adalah ilmu yang menduduki tempat tertinggi, meliputi seluruh kebaikan.

Dari Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَن يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيۡرًا يُفَقِّهۡهُ فِي الدِّينِ . – رواه البخاري و مسلم
“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapat kebaikan, Allah akan memahamkannya tentang Din.” (H.R. Bukhari No. 71 dan Muslim No. 1037).

Yang dimaksud faqih dalam hadits tersebut adalah bukan hanya mengetahui hukum syar’i, tetapi lebih dari itu. Seseorang dikatakan faqih bila ia memahami tauhid dan pokok Islam serta hal-hal yang berkaitan dengan syari’at Allah. (Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Kitabul ‘Ilmi, hal. 21).

Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali mengatakan, “Ilmu yang bermanfaat adalah mempelajari al-Quran dan sunnah serta memahami makna kandungan keduanya dengan pemahaman para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Demikian juga dalam masalah hukum, halal dan haram, zuhud, masalah hati, dan sebagainya." (Fadhlu ‘Ilmi Khalaf, hal. 26).

Banyak dalil al-Quran dan hadits sahih yang menunjukkan dengan jelas tentang keutamaan ilmu dan orang yang mendalami ilmu agama. Tentu saja kebaikan dan keutamaan tersebut hanya diberikan kepada mereka yang mempelajarinya atas dasar niat karena Allah, bukan untuk mencari kesenangan duniawi.

عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ مَنۡ تَعَلَّمَ عِلۡمًا مِمَّا يُبۡتَغَى بِهِ وَجۡهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنۡيَا لَمۡ يَجِدۡ عَرۡفَ الۡجَنَّةِ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ يَعۡنِي رِيحَهَا. – رواه إبن ماجه و أبو داود
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang mempelajari ilmu yang seharusnya ditujukan karena Allah, sedangkan dia mempelajarinya karena (ingin meraih) kesenangan duniawi, maka pada Hari Kiamat dia tidak akan pernah mencium bau surga.” (H.R. Ibnu Majah No. 252, dan Abu Daud No. 3664).

Berikut ini adalah beberapa keutamaan ilmu dan ulama berdasarkan al-Qur’an dan Hadits Shahih.

1. Setiap amal membutuhkan ilmu.
وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۚ إِنَّ السَّمۡعَ وَالۡبَصَرَ وَالۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَـٰٓئِكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡ‍ُٔولًا ٣٦ 
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan diminta tanggung jawabnya.” (QS. Al-Isra’ [17]: 36).

Ali bin Abu Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang menyimpulkan bahwa Allah melarang mengatakan sesuatu tanpa ada ilmu tentangnya, termasuk ucapan atas dasar prasangka.

2. Ilmu akan meningkatkan derajat seseorang.
... يَرۡفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَالَّذِينَ أُوتُواْ الۡعِلۡمَ دَرَجٰتٍۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٌ ١١ 
“... niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 11).

Iman akan mendorong manusia untuk senantiasa melakukan ketaatan, sementara ilmu akan menjadi landasannya. Dengan iman dan ilmu, keduanya akan mengantarkan seseorang kepada derajat yang lebih tinggi di sisi Allah.

3. Orang berilmu menjadi saksi keesaan Allah.
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُۥ لَآ إِلٰهَ إِلَّا هُوَ وَالۡمَلَـٰٓئِكَةُ وَأُوْلُواْ الۡعِلۡمِ قَآئِمَۢا بِالۡقِسۡطِۚ لَآ إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الۡعَزِيزُ الۡحَكِيمُ ١٨ 
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan hal itu). Tak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran [3]: 18).

Dalam ayat ini para malaikat dan ahli ilmu turut mempersaksikan keesaan Allah. Orang berilmu tersebut adalah orang yang memiliki ilmu tentang Allah, memahami agama Allah, memiliki rasa takut kepada Allah dan orang yang selalu mematuhi aturan dan batasan yang telah digariskan oleh Allah.

4. Orang yang paling takut kepada Allah.
... إِنَّمَا يَخۡشَى اللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ الۡعُلَمٰٓؤُاْۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ ٢٨ 
“... Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Fathir [35]: 28).

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya berkata, “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah dengan takut yang sebenarnya adalah para ulama. Karena semakin seseorang mengenal Allah, maka ia akan lebih memiliki sifat takut yang akan terus bertambah.” (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 6: 308).

5. Seluruh makhluk akan memohonkan ampunan.
عَنۡ كَثِيرِ بۡنِ قَيۡسٍ قَالَ كُنۡتُ جَالِسًا مَعَ أَبِي الدَّرۡدَاءِ فِي مَسۡجِدِ دِمَشۡقَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَبَا الدَّرۡدَاءِ إِنِّي جِئۡتُكَ مِنۡ مَدِينَةِ الرَّسُولِ لِحَدِيثٍ بَلَغَنِي أَنَّكَ تُحَدِّثُهُ عَنۡ رَسُولِ اللَّهِ مَا جِئۡتُ لِحَاجَةٍ قَالَ فَإِنِّي سَمِعۡتُ رَسُولَ اللَّهِ يَقُولُ مَنۡ سَلَكَ طَرِيقًا يَطۡلُبُ فِيهِ عِلۡمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنۡ طُرُقِ الۡجَنَّةِ وَإِنَّ الۡمَلٓئِكَةَ لَتَضَعُ أَجۡنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الۡعِلۡمِ وَإِنَّ الۡعَالِمَ لَيَسۡتَغۡفِرُ لَهُ مَنۡ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنۡ فِي الۡأَرۡضِ وَالۡحِيتَانُ فِي جَوۡفِ الۡمَاءِ وَإِنَّ فَضۡلَ الۡعَالِمِ عَلَى الۡعَابِدِ كَفَضۡلِ الۡقَمَرِ لَيۡلَةَ الۡبَدۡرِ عَلَى سَائِرِ الۡكَوَاكِبِ وَإِنَّ الۡعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الۡأَنۡبِيَاءِ وَإِنَّ الۡأَنۡبِيَاءَ لَمۡ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرۡهَمًا وَرَّثُوا الۡعِلۡمَ فَمَنۡ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ. – رواه أبو داود
Dari Katsir bin Qais, dia berkata: Ketika aku duduk-duduk bersama Abu Darda’ dalam sebuah masjid di Damaskus, seorang lelaki mendatangi Abu Darda’, dia berkata, “Wahai Abu Darda’, aku datang dari kota Rasulullah (Madinah) karena suatu hadits yang telah engkau riwayatkan dari Rasulullah. Aku ke sini untuk memastikan kebenarannya.” Abu Darda’ lalu berkata, “Sungguh aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa berjalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkannya di antara jalan-jalan yang ada di surga, sedangkan malaikat akan meletakkan sayapnya (memberikan doa) karena senang dengan para penuntut ilmu. Seluruh penghuni langit serta bumi dan ikan-ikan di dasar laut akan memintakan ampunan kepada orang yang mempunyai ilmu pengetahuan, karena kelebihan dan keutamaan orang yang mempunyai ilmu pengetahuan atas ahli ibadah bagaikan keutamaan bulan pada malam purnama atas bintang-bintang di sekitarnya. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi dan para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, melainkan ilmu pengetahuan. Barangsiapa mengambilnya berarti ia telah mendapat keuntungan yang besar. (H.R. Abu Daud No. 3641. Dinilai shahih oleh al-Albani).

6. Menuntut ilmu termasuk Jihad fi Sabilillah.
عَنۡ أَنَسٍ رضي الله عنه قال: قال رسولُ الله : مَنۡ خَرَجَ فِي طَلَبِ الۡعِلۡمِ كَانَ فِي سَبِيلِ اللهِ حَتَّى يَرۡجِعَ . – رواه الترمذ
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang keluar untuk menuntut ilmu, maka ia berada fi Sabilillah hingga ia kembali” (H.R. At-Tirmidzi 2647).

7. Dengan ilmu, Allah mudahkan jalan ke surga.
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنۡ سَلَكَ طَرِيقًا يَلۡتَمِسُ فِيهِ عِلۡمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الۡجَنَّةِ. – رواه مسلم
“Barangsiapa yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan jalannya menuju surga.” (H.R. Muslim No. 2699).

***

Ada begitu banyak keutamaan ilmu dan orang yang berilmu (ulama). Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang umatnya untuk menyembunyikan ilmu.

عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ مَنۡ سُئِلَ عَنۡ عِلۡمٍ فَكَتَمَهُ أَلۡجَمَهُ اللَّهُ بِلِجَامٍ مِنۡ نَارٍ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ. – رواه أبو داود والترمذي
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang ditanya tentang suatu ilmu lalu dia menyembunyikannya, maka Allah akan mencambuknya dengan cambuk dari api neraka pada Hari Kiamat.” (H.R. Abu Daud No. 3658 dan At-Tirmidzi No. 2649).

Dengan demikian, sudah seharusnya bagi para ulama untuk turut bergabung dalam upaya penyebaran ilmu melalui berbagai media yang ada. Karena pada dasarnya, semua ilmu adalah baik, karena seluruh ilmu yang ada di dunia ini adalah bersumber dari Allah. Oleh sebab itu, setiap ilmu, setiap kebaikan yang disampaikan kepada orang lain akan membawa kebaikan pula untuk orang yang menyampaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَنۡ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الۡأَجۡرِ مِثۡلُ أُجُورِ مَنۡ تَبِعَهُ لَا يَنۡقُصُ ذَلِكَ مِنۡ أُجُورِهِمۡ شَيۡئًا وَمَنۡ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيۡهِ مِنَ الۡإِثۡمِ مِثۡلُ آثَامِ مَنۡ تَبِعَهُ لَا يَنۡقُصُ ذَلِكَ مِنۡ آثَامِهِمۡ شَيۡئًا. – رواه مسلم
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Barangsiapa mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Sebaliknya, barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (H.R. Muslim No. 2674).

Allah subhanahu wata’ala berfirman,

فَإِلَّمۡ يَسۡتَجِيبُواْ لَكُمۡ فَاعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَآ أُنزِلَ بِعِلۡمِ اللَّهِ وَأَن لَّآ إِلٰهَ إِلَّا هُوَۖ فَهَلۡ أَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٤ 
“Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu maka ketahuilah, sesungguhnya al-Quran itu diturunkan dengan ilmu Allah, dan bahwasanya tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)?” (QS. Hud [11]: 14).
Ayat tersebut menjelaskan bahwa al-Quran termasuk salah satu bentuk ilmu dari Allah, ilmu yang haq yang mengajarkan tauhid. Tugas manusia adalah menyampaikannya, walaupun akan tetap ada orang yang akan menolaknya.


... قُلۡ هَلۡ يَسۡتَوِي الَّذِينَ يَعۡلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ الۡأَلۡبٰبِ ٩ 
“... Katakanlah: ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya hanya orang berakal yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar [39]: 9)

0 Comments