Harap dan Takut kepada Allah

Harap dan Takut kepada Allah


Harap dan Takut kepada Allah - Sebagai manusia yang menjadi hamba Allah, sudah seharusnya untuk hanya menggantungkan hidupnya kepada Allah semata. Allah yang telah memberi rezeki, makanan, minuman, tempat tinggal, pakaian, udara untuk bernapas, dan masih banyak nikmat Allah yang tidak dapat dihitung satu per satu dan wajib disyukuri.

Bentuk syukur yang paling tepat adalah dengan memanfaatkan segala fasilitas hidup tersebut untuk hanya beribadah dan mengabdikan diri kepada Allah. Beramal saleh dan menjalankan perintah Allah serta meninggalkan segala hal yang dilarang.

Allah berfirman:
... فَمَن كَانَ يَرۡجُوا لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا ١١٠
"... Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya." (QS. Al-Kahfi [18]: 110).

Melalui ayat ini, Allah memberikan petunjuk tentang bagaimana prosedur untuk dapat bertemu dengan Allah dan menerima balasan atas kebaikan yang telah diusahakan di dunia. Ada dua hal yang harus dilakukan, pertama, dengan mengerjakan amal saleh, yakni segala amal perbuatan yang disetujui oleh syariat Islam dan kedua, tidak mempersekutukan Allah (syirik) dalam beribadah, yakni dengan mengerjakan amal yang semata-mata hanya karena Allah. Kedua hal tersebut sekaligus menjadi syarat utama diterimanya suatu amal, ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan syariat yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Amal ibadah yang dikerjakan tanpa rasa ikhlas dan tanpa tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka amal itu akan tertolak.

عَنۡ أُمِّ الۡمُؤۡمِنِيۡنَ أُمِّ عَبۡدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا قَالَتۡ : قَالَ رَسُوۡلُ الله ﷺ : مَنۡ أَحۡدَثَ فِي أَمۡرِنَا هَذَا مَا لَيۡسَ مِنۡهُ فَهُوَ رَدٌّ. (رواه البخاري ومسلم وفي رواية المسلم : مَنۡ عَمِلَ عَمَلًا لَيۡسَ عَلَيۡهِ أَمۡرُنَا فَهُوَ رَدٌّ)
Dari Ummul Mu'minin; Ummu Abdillah; 'Aisyah radhiallahu 'anha dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (berasal) darinya, maka dia tertolak." (H.R. Al-Bukhari dan Muslim), dalam riwayat Muslim disebutkan: "Siapa yang melakukan suatu perbuatan (ibadah) yang bukan urusan (Din) kami, maka dia tertolak").

Rasa harap dan takut merupakan perasaan yang pasti ada dalam setiap insan. Bagi orang beriman, kedua sifat ini justru menjadi andalan ketika beramal dan berdoa. Setiap amal yang dikerjakan dan setiap doa yang diucapkan akan lebih bermakna jika menyertakan rasa harap dan takut kepada Allah. Berharap agar amalnya mendapat rahmat dan diterima di sisi Allah, serta takut akan siksa untuk dosa-dosa yang telah dilakukan.

Dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah menjenguk seorang pemuda yang tengah menghadapi sakaratul maut, beliau bertanya kepada pemuda tersebut,

كَيۡفَ تَجِدُكَ؟ قَالَ: وَاللهِ يَا رسولَ اللهِ, إِنِّي أَرۡجُوا اللهَ وَ إِنِّي أَخَافُ ذُنُوبِي. فَقَالَ رسولُ اللهِ: لَا يَجۡتَمِعَانِ فِي قَلۡبِ عَبۡدٍ فِي مِثۡلِ هَذَا الۡمَوۡطِنِ إِلَّا أَعۡطَاهُ اللهُ مَا يَرۡجُو وَآمَنَهُ مِمَّا يَخَافُ. ( رواه الترمذي وابن ماجه وغيرهما )
“Apa yang kamu rasakan saat ini?” Dia menjawab, “Demi Allah ya Rasulullah, sungguh saat ini aku mengharapkan rahmat Allah dan aku takut akan akibat dari dosa-dosaku”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah terkumpul dua sifat ini dalam hati seorang hamba dalam keadaan seperti ini kecuali Allah akan memberikan apa yang diharapkannya dan menyelamatkannya dari apa yang ia takutkan.” (H.R. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dan lainnya).

Allah juga berfirman dalam QS. Al-Anbiya’ [21]: 90,

... إِنَّهُمۡ كَانُواْ يُسٰرِعُونَ فِي الۡخَيۡرٰتِ وَيَدۡعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًاۖ وَكَانُواْ لَنَا خٰشِعِينَ ٩٠
“... Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap (raghbah) dan takut (rahbah). Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’.”

Makna raghbah adalah meminta, merendahkan diri dan mengharap sepenuh hati. Sedangkan makna rahbah adalah rasa takut yang menyebabkan seseorang menjauh dari sesuatu yang ditakutinya. (Syaikh Abdullah bin Shalih al-Fauzan, Hushulul Ma’mu bisyarhi Tsalatsatil Ushul).

Raghbah memiliki makna yang hampir sama dengan raja’, namun ada perbedaannya. Raja’ adalah menginginkan, hanya sekedar keinginan, sedangkan raghbah adalah usaha untuk mendapatkan yang diinginkan meskipun belum pasti tercapai. (Ibnul Qayim, Madarijus Salikin, Juz 2).

Ibnu Hajar al-Atsqalani dalam kitabnya Fathul Baari berkata, “Yang dimaksud dengan ar-raja’ (berharap) adalah bahwa jika seorang hamba melakukan kesalahan, maka hendaknya ia berprasangka baik kepada Allah dan berharap agar Allah mengampuni dosanya. Demikian pula ketika melakukan ketaatan kepada Allah, berharap agar Allah menerima amalnya.”

Sebagian para ulama menjelaskan bahwa dalam kondisi sehat lebih utama menguatkan sifat al-khauf (takut) daripada sifat ar-raja’ (harap), agar seseorang tidak mudah lalai dan lebih bersemangat dalam beramal saleh. Adapun ketika sakit, apalagi saat menjelang ajal, lebih utama menguatkan sifat ar-raja’ (berharap) untuk menumbuhkan prasangka baik kepada Allah. (Fathul Baari (11/301) dan Faidhul Qadir (2/70).

Orang yang takut kepada kebesaran Allah, mereka tidak akan berani berbuat maksiat. Karena jika mereka hendak berbuat maksiat, maka rasa takutnya akan menghalanginya dan menuntunnya kepada penyesalan dengan memohon ampun kepada Allah dan bertobat. Dengan demikian mereka akan tetap berada dalam ketaatan.

وَأَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى النَّفۡسَ عَنِ الۡهَوٰى ٤٠ فَإِنَّ الۡجَنَّةَ هِيَ الۡمَأۡوٰى ٤١
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Nazi'at [79]: 40-41).

Menahan keinginan hawa nafsu merupakan titik pusat ketaatan, karena hawa nafsu cenderung mendorong kepada perbuatan dosa dan maksiat.


وَمَآ أُبَرِّئُ نَفۡسِيٓۚ إِنَّ النَّفۡسَ لَأَمَّارَةُۢ بِالسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيٓۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٞ رَّحِيمٞ  ٥٣
“Dan aku tidak bisa membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabb-ku. Sesungguhnya Rabb-ku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf [12]: 53).

Salah satu dorongan hawa nafsu adalah keinginan agar amalnya dilihat dan dipuji oleh orang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggolongkannya dalam perbuatan syirik (mempersekutukan Allah). Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa syirik adalah salah satu penyebab tertolaknya suatu amal.

Telah diriwayatkan melalui Mujahid secara mursal, juga melalui tabi’in lainnya yang bukan hanya seorang.
Al-A’masy mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hamzah Abu Imarah maula (bekas budak) Bani Hasyim, dari Syahr ibnu Hausyab yang mengatakan bahwa pernah ada seorang lelaki datang kepada Ubadah bin Shamit radhiallahu ‘anhu. Lelaki itu berkata, ‘Saya mau bertanya kepadamu, bagaimana pendapatmu tentang seorang lelaki yang shalat dengan mengharapkan pahala Allah, tapi ia suka bila dipuji. Ia juga berpuasa karena mengharap pahala Allah, tetapi ia suka bila dipuji. Dan ia rajin bersedekah karena mengharap pahala Allah, tetapi ia suka dipuji. Dan ia mengerjakan haji karena mengharap pahala Allah, tetapi ia suka dipuji?’ Ubadah menjawab, ‘Ia tidak mendapat apa-apa, karena sesungguhnya Allah telah berfirman, ‘Aku adalah sebaik-baik sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amal dengan mempersekutukan selain Aku di dalamnya, maka amalnya itu buat sekutu-Ku, Aku tidak memerlukan amalnya’.’

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قال اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : أَنَا أَغۡنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرۡكِ ، مَنۡ عَمِلَ عَمَلاً أَشۡرَكَ فِيۡهِ مَعِيۡ غَيۡرِيۡ ، تَرَكۡتُهُ وَ شِرۡكَهُ . – رواه مسلم و إبن ماجه
“Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, “Aku adalah sekutu yang tidak butuh sekutu lainnya. Barang siapa beramal dengan menyekutukan-Ku, maka Aku tinggalkan ia dan sekutunya.” (H.R. Muslim No. 2985 dan Ibnu Majah No. 4202).

Dalam hadits lain, dari Al-Hafiz Abu Bakar al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami al-Hasan bin Ali bin Ja’far al-Ahmar, telah menceritakan kepada kami Ali bin Tsabit, telah menceritakan kepada kami Qais bin Abu Husain, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يَقُولُ اللهُ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ أَنَا خَيۡرُ شَرِيۡكٍ فَمَنۡ أَشۡرَكَ بِيۡ أَحَدًا فَهُوَ لَهُ كُلُّهُ.
“Pada hari kiamat, Allah berfirman: ‘Aku adalah sebaik-baik sekutu. Barangsiapa yang mempersekutukan seseorang dengan-Ku, maka semua amalnya adalah untuk sekutunya.”
Ibnu Katsir mengatakan: “Hendaklah orang yang beramal itu meminta pahala kepada orang yang dipersekutukannya dengan Allah, bukan kepada Allah.”

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Syaiban, dari Firas, dari Atiyyah, dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنۡ يُرَائِيۡ يُرَائِي اللهُ بِهِ وَمَنۡ يُسَمِّعۡ يُسَمِّعِ اللهُ بِهِ.
“Barangsiapa yang pamer, maka Allah akan memamerkan amalnya; dan barangsiapa yang ingin didengar (amalnya), maka Allah menjadikan amalnya terkenal.”

Wahb mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yazid bin Iyad, dari Abdurrahman al-A’raj, dari Abdullah bin Qais al-Khuza’i, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنۡ قَامَ رِيَاءً وَ سُمۡعَةً لَمۡ يَزَلۡ فِي مَقۡتِ اللهِ حَتَّى يَجۡلِسۡ.
“Barangsiapa yang berdiri karena pamer dan harga diri, ia akan terus-menerus dalam murka Allah hingga ia duduk.”

Kesimpulan:
Perasaan harap dan takut sebaiknya memang disertakan dalam setiap amal perbuatan. Berharap agar amalnya diterima di sisi Allah dan berharap mendapat rahmat dan ampunan dari Allah. Dengan harapan tersebut, akan timbul prasangka baik terhadap Allah. Sementara dengan adanya rasa takut, misalnya takut akan siksa Allah, orang beriman akan melakukan amal ibadah dengan sungguh-sungguh dan bersemangat.

أَمَّنۡ هُوَ قٰنِتٌ ءَانَآءَ الَّيۡلِ سَاجِدًا وَقَآئِمًا يَحۡذَرُ الۡأٓخِرَةَ وَيَرۡجُواْ رَحۡمَةَ رَبِّهِۦۗ ... ٩
“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) atau orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya?...” (QS. Az-Zumar [39]: 9).

سَأَلَتۡ عَائِشَةُ رسولُ اللهِ ﷺ عَنۡ هَذِهِ الۡآيَةِ : ( وَالَّذِينَ يُؤۡتُونَ مَآ ءَاتَواۡ وَّقُلُوبُهُمۡ وَجِلَةٌ أَنَّهُمۡ إِلىٰ رَبِّهِمۡ رٰجِعُونَ ) قَالَتۡ عَائِشَةُ: الَّذِينَ يَشۡرَبُونَ الۡخَمۡرَ وَ يَسۡرِقُونَ؟ قَالَ: لَا, يَا بِنۡتَ الصِّدِّيقِ, وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ وَهُمۡ يَخَافُونَ أَنۡ لَا يُقۡبَلَ مِنۡهُمۡ أُولٓئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الۡخَيۡرَاتِ. ( رواه الترمذي )
“Aisyah pernah menanyakan maksud ayat ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: (“Dan mereka yang bersedekah dengan hati penuh rasa takut bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabbnya.” QS. Al-Mukminun [23]: 60).

‘Aisyah bertanya, “Apakah mereka itu orang-orang yang suka minum khamr dan mencuri?” Beliau bersabda, “Tidak, wahai anak perempuan Shiddiq. Mereka adalah orang-orang yang suka berpuasa, mendirikan shalat, bersedekah dan mereka merasa takut bila ibadahnya tidak diterima. Mereka itulah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan.” (H.R. At-Tirmidzi).

Selain rasa harap dan takut, dalam beribadah hendaknya harus lebih berhati-hati. Beramal seharusnya hanya mengharapkan keridhaan Allah, karena amal yang dikerjakan agar mendapat pujian dari orang lain, amal itu tidak akan diterima oleh Allah karena mengandung unsur kemusyrikan.

Wallahu A'lam bis-Shawab
* * *
Suka artikel ini?
Bagikan...

0 Comments