Makna Ikhlas

Makna Ikhlas


Makna Ikhlas - Dalam definisi secara umum, ikhlas berarti tidak mengharapkan apa pun selain keridhaan Allah. Namun sebenarnya makna ikhlas lebih luas dari itu. Orang yang ikhlas tidak akan terpengaruh oleh godaan iblis. Meskipun begitu gigihnya upaya yang dilakukan oleh Iblis untuk menyesatkan manusia, tetap saja ada segolongan kecil manusia yang tidak akan terpengaruh oleh tipu daya dan muslihat Iblis. Mereka adalah orang-orang yang ikhlas, sebagaimana Iblis sendiri yang mengatakannya dan diabadikan dalam firman Allah berikut:

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ .إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ الۡمُخۡلَصِينَ .
“Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (QS. Shad [38]: 82-83).

Secara bahasa, kata “ikhlas” berarti “murni” dan “bersih”, berasal dari bahasa Arab, yaitu ( خَلَصَ – يَخۡلُصُ – خُلُوصًا ), dan orang yang ikhlas disebut mukhlis.

Dalam al-Quran, kata “ikhlas” dan “mukhlis” selalu disandingkan dan berkaitan erat dengan pengabdian dan ketaatan kepada Allah. Salah satu ayat tersebut adalah firman Allah berikut,

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ اللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ الصَّلٰوةَ وَيُؤۡتُواْ الزَّكٰوةَۚ وَذٰلِكَ دِينُ الۡقَيِّمَةِ.
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) Din yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah Din yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 5).

إِنَّآ أَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ الۡكِتٰبَ بِالۡحَقِّ فَاعۡبُدِ اللَّهَ مُخۡلِصٗا لَّهُ الدِّينَ .أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الۡخَالِصُۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى اللَّهِ زُلۡفٰٓى إِنَّ اللَّهَ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡ فِي مَا هُمۡ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ كٰذِبٞ كَفَّارٌ .
“Sesungguhnya Kami turunkan kepadamu Kitab (al-Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya milik Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. Az-Zumar [39]: 2-3).

Berdasarkan dari dua keterangan ayat tersebut, setidaknya dapat diambil tiga poin penting, yaitu:
  1. Ikhlas adalah memurnikan akidah dan ketaatan manusia, sehingga segala aspek kehidupan dan aktivitas manusia hanya ditujukan untuk Allah semata, terutama dalam hal ibadah dan pengabdian.
  2. Islam adalah agama yang hanif; lurus dan bersih dari kemusyrikan.
  3. Sikap ikhlas dalam agama merupakan perintah langsung dari Allah.
Dari penjelasan tersebut, dapat diketahui bahwa keikhlasan sangat erat hubungannya dengan niat. Karena makna dari ikhlas adalah tidak mengharap apa pun selain keridhaan Allah semata dalam setiap aktivitas yang dikerjakan. Berkenaan dengan ini, ada sebuah hadits shahih yang populer dari Umar bin Khatthab radhiallahu ‘anhu bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّـمَا اۡلأَعۡمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّـمَا لِكُلِّ امۡرِئٍ مَا نَوَى فَمَنۡ كَانَتۡ هِجۡرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوۡلِهِ فَهِجۡرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوۡلِهِ وَمَنۡ كَانَتۡ هِجۡرَتُهُ لِدُنۡيَا يُصِيۡبُهَا أَوۡ اِمۡرَأَةٍ يَنۡكِحُهَا فَهِجۡرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيۡهِ . – رواه البخاري
“Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan dibalas berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kesenangan duniawi atau karena wanita yang ingin dinikahi, maka hijrahnya akan bernilai sebagaimana yang dia niatkan.” (H.R. Al-Bukhari No. 54). 

Asbabul wurud hadits ini adalah karena adanya seorang laki-laki yang ikut hijrah ke Madinah hanya karena ingin menikahi seorang wanita bernama Ummu Qais. Oleh sebab itu, laki-laki itu tidak menerima pahala hijrahnya. Ia hanya memperoleh apa yang ia niatkan yaitu menikahi Ummu Qais, sehingga ia pun dijuluki muhajir Ummu Qais.

Diterima atau tidaknya suatu amal tergantung pada niatnya. Demikian juga setiap orang berhak mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya dalam beramal. Yang dimaksud dengan amal adalah semua yang berasal dari seorang hamba, baik berupa ucapan, perbuatan maupun keyakinan dalam hati.

Pada dasarnya, amal ibadah hanya diniatkan untuk meraih kenikmatan akhirat. Namun terkadang diperbolehkan beramal dengan niat untuk tujuan dunia di samping niat untuk tujuan akhirat, dengan syarat jika dalilnya menyebutkan adanya pahala dunia bagi amalan tersebut, misalnya seperti shalat Dhuha dengan niat untuk memudahkan rezeki. Namun akan lebih sempurna nilainya jika yang diharapkan hanya akhirat saja.

Sebagaimana hadits tersebut, niat untuk Allah adalah mencari keridhaan Allah semata. Sedangkan untuk Rasul adalah dengan ittiba’ (mengikuti) perbuatan Rasul dan mencintai sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

Riwayat tersebut menunjukkan betapa pentingnya perkara niat dalam rangka pengabdian kepada Allah. Sebanyak apa pun amal saleh yang dikerjakan, jika tidak diniatkan untuk Allah, maka amal saleh tersebut tidak bernilai apa-apa. Terutama jika amal saleh tersebut diniatkan untuk makhluk, maka itu sama saja dengan perbuatan syirik yang disebut riya’, dan tetap termasuk mempersekutukan Allah. Sebagaimana firman Allah: “Ingatlah, hanya milik Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).”

... لَئِنۡ أَشۡرَكۡتَ لَيَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِينَ .
“... Jika kamu berbuat syirik, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar [39]: 65).

Dari Mahmud bin Labid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ أَخۡوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيۡكُمُ الشِّرۡكُ الأَصۡغَرُ الرِّيَاءُ ، يَقُوۡلُ اللهُ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ إِذَا جَزَى النَّاسَ بِأَعۡمَالِـهِمۡ اِذۡهَبُوۡا إِلَى الَّذِينَ كُنۡتُمۡ تُرَاؤُوۡنَ فِيۡ الدُّنۡيَا فَانۡظُرُوۡا هَلۡ تَجِدُوۡنَ عِنۡدَهُمۡ جَزَاءً . - رواه أحمد
“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil, yaitu riya’. Allah akan berkata kepada mereka di hari kiamat ketika memberikan balasan atas amal-amal manusia: “Pergilah kepada orang-orang yang dulu kau perlihatkan amalmu pada mereka di dunia, lalu lihatlah apakah kalian mendapat balasan dari mereka?” (H.R. Ahmad No. 22528).

Juga hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قال اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغۡنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرۡكِ مَنۡ عَمِلَ عَمَلًا أَشۡرَكَ فِيۡهِ مَعِيۡ غَيۡرِيۡ تَرَكۡتُهُ وَشِرۡكَهُ. – رواه مسلم و إبن ماجه
“Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, “Aku adalah sekutu yang tidak butuh sekutu lainnya. Barang siapa beramal dengan menyekutukan-Ku, maka Aku tinggalkan ia dan sekutunya.” (H.R. Muslim No. 2985 dan Ibnu Majah No. 4202).

Allah Ta’ala juga berfirman,

قُلۡ يٰٓأَهۡلَ الۡكِتٰبِ تَعَالَوۡاْ إِلٰى كَلِمَةٖ سَوَآءِۢ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمۡ أَلَّا نَعۡبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشۡرِكَ بِهِۦ شَيۡ‍ٔٗا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعۡضُنَا بَعۡضًا أَرۡبَابٗا مِّن دُونِ اللَّهِۚ فَإِن تَوَلَّوۡاْ فَقُولُواْ اشۡهَدُواْ بِأَنَّا مُسۡلِمُونَ .
“Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan kita tidak mempersekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.” (QS. Ali Imran [3]: 64).

Ayat ini merupakan perintah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyeru kepada Ahli Kitab. Yaitu Ahli Kitab dari kalangan Yahudi, Nasrani dan orang-orang yang memiliki aliran yang sama dengan mereka. Seruan tersebut berisi ajakan kepada mereka untuk:
  1. Kembali kepada ajaran tauhid tanpa mempersekutukan Allah, dan
  2. Melarang mereka menjadikan manusia sebagai “tuhan”.
Kedua poin inilah yang menjadi konsep dasar dari keikhlasan, yaitu tauhid. Mendedikasikan seluruh amal perbuatan hanya untuk Allah dan hanya mengharap keridhaan Allah semata.

Telah dibahas sebelumnya bahwa isi ajaran dari kitab-kitab terdahulu telah diubah dan disembunyikan oleh para Ahli Kitab. Perubahan itu termasuk ajaran tauhid yang telah disyariatkan oleh para Nabi terdahulu. Misalnya penyimpangan umat Yahudi dari kalangan Bani Israil yang mengatakan bahwa ‘Uzair adalah anak Allah. (Lihat QS. At-Taubah [9]: 30).

Begitu pula ajaran umat Nasrani yang mengatakan bahwa Isa Al-Masih adalah anak Allah, dan mereka bahkan memiliki keyakinan konsep trinitas. Penyimpangan ini terjadi karena sikap mereka yang selalu berlebih-lebihan. Mereka berlebihan dalam menyanjung Nabi Isa ‘alaihissalam sehingga menganggap beliau adalah Tuhan.

Mengenai konsep trinitas dapat dilihat dalam QS. An-Nisa’ [4]: 171 dan QS. Al-Maidah [5]: 72-73 dan 116

Bahkan ada pula segolongan dari mereka yang mengaku telah terpelihara dari kesalahan sehingga apa pun yang mereka katakan akan diikuti oleh pengikutnya, tanpa menghiraukan apakah benar atau salah, haq atau batil, jujur atau dusta. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah: “menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Ini sangat berkaitan dengan ayat berikut:

اِتَّخَذُوٓاْ أَحۡبَارَهُمۡ وَرُهۡبٰنَهُمۡ أَرۡبَابٗا مِّن دُونِ اللَّهِ وَالۡمَسِيحَ ابۡنَ مَرۡيَمَ وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُوٓاْ إِلٰهٗا وّٰحِدٗاۖ لَّآ إِلٰهَ إِلَّا هُوَۚ سُبۡحٰنَهُۥ عَمَّا يُشۡرِكُونَ .
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (mempertuhankan) Al-Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Esa, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka sekutukan.” (QS. At-Taubah [9]: 31).

Ada satu riwayat yang menjelaskan makna ayat ini. Riwayat tersebut adalah tentang masuk Islamnya seorang Nasrani bernama ‘Adi bin Hatim. Saat ia menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia mengenakan kalung salib perak di lehernya, dan ketika itu Rasulullah sedang membacakan firman Allah, “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah”.

‘Adi bin Hatim menjawab, “Sesungguhnya mereka tidak menyembah rahib mereka.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

بَلَى إِنَّـهُمۡ حَرَّمُوا عَلَيۡهِمُ الۡحَلَالَ وَأَحَلُّوا لَـهُمُ الۡحَرَامَ فَاتَّبَعُوهُمۡ فَذَلِكَ عِبَادَتُـهُمۡ إِيَّاهُمۡ .
“Memang tidak. Tetapi sesungguhnya bila mereka mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram, maka kalian akan mengikuti mereka, itulah bentuk ibadah kepada orang alim dan rahib mereka.”

Ketika itulah ‘Adi bin Hatim bersyahadat di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam. Setelah itu Nabi bersabda,

إِنَّ الۡيَهُودَ مَغۡضُوبٌ عَلَيۡهِمۡ وَالنَّصَارَى ضَالُّونَ .
“Sesungguhnya orang-orang Yahudi itu dimurkai dan orang-orang Nasrani adalah orang yang sesat.” 

Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Jarir melalui berbagai jalur dari ‘Adi bin Hatim radhiallahu ‘anhu dan dinukil oleh Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya.

Hal yang sama juga telah dikatakan oleh Hudzaifah bin Yaman, Ibnu ‘Abbas dan lainnya sehubungan dengan QS. At-Taubah ayat 31 tersebut, bahwa sesungguhnya mereka (Yahudi dan Nasrani) mengikuti ulama dan rahib mereka dalam semua hal yang dihalalkan dan diharamkan oleh mereka.

As-Saddi juga mengatakan, “Mereka meminta saran dari orang-orang alim mereka sedangkan mereka lemparkan kitabullah di belakang punggungnya.” Artinya, mereka hanya mengikuti keputusan dan perkataan dari orang-orang alim mereka dengan meninggalkan kitabullah yang seharusnya menjadi dasar dari keputusan tersebut.

Kesimpulan yang dapat diambil dari uraian di atas adalah:
  1. Arti ikhlas adalah bersih dan murni.
  2. Ikhlas adalah kemurnian tauhid dan menolak kemusyrikan.
  3. Niat yang ikhlas berarti hanya mengharap keridhaan Allah.
  4. Amal apa pun yang diniatkan untuk selain Allah maka tidak bernilai.
Demikianlah uraian yang menjelaskan tentang urgensi ikhlas dan juga esensi serta aplikasi dari ikhlas itu sendiri. Itulah yang menjadi makna dari salah satu surat dalam al-Quran, yaitu surat Al-Ikhlas. Karena surat Al-Ikhlas 100% hanya membahas tentang nilai-nilai tauhid dan sifat keesaan Allah.

Surat Al-Ikhlas
قُلۡ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ .اَللَّهُ الصَّمَدُ .لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ .وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌ
Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah tempat bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada satu pun yang setara dengan Dia”.” (QS. Al-Ikhlas [112]: 1-4).

Ayat pertama merupakan pengertian dan menjadi konsep dasar tauhid, yaitu mengesakan Allah, karena Allah adalah Esa/Tunggal. Maknanya, bahwa Allah adalah satu-satunya dalam segala hal, tidak ada tandingan bagi Allah.

لَوۡ كَانَ فِيهِمَآ ءَالِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَاۚ فَسُبۡحٰنَ اللَّهِ رَبِّ الۡعَرۡشِ عَمَّا يَصِفُونَ .
“Sekiranya di langit dan di bumi ada ilah-ilah selain Allah, tentulah keduanya (langit dan bumi) itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy dari apa yang mereka sifatkan.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 22).

Makna Ahad dalam ayat pertama ini dijelaskan oleh Allah melalui ayat-ayat setelahnya dalam surat Al-Ikhlas sebagai berikut:

اَللَّهُ الصَّمَدُ
“Allah adalah tempat bergantung segala sesuatu”

Ayat ini mengandung pengertian bahwa segala sesuatu selain Allah adalah makhluk, dan seluruh makhluk hanya bergantung kepada Allah, sebab Allah yang telah menciptakan mereka.

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ثُمَّ اسۡتَوٰى عَلَى الۡعَرۡشِۖ يُغۡشِي الَّيۡلَ النَّهَارَ يَطۡلُبُهُۥ حَثِيثٗا وَالشَّمۡسَ وَالۡقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرٰتِۢ بِأَمۡرِهِۦٓۗ أَلَا لَهُ الۡخَلۡقُ وَالۡأَمۡرُۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الۡعٰلَمِينَ
“Sesungguhnya Rabb-mu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Al-A’raf [7]: 54).

Allah adalah Rabb yang berarti pemilik dan pengatur. Maksudnya ialah karena Allah yang menciptakan alam semesta ini, maka secara otomatis Allah juga menjadi pemilik yang berkuasa dan berhak mengatur seluruh alam ini beserta isinya, termasuk manusia yang lemah ini.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya bagi manusia untuk menggantungkan hidupnya kepada Allah. Allah yang menciptakan, memberi rezeki berupa harta benda, makanan, minuman, tempat tinggal, pakaian dan segala fasilitas serta kesenangan hidup lainnya.

Tidakkah itu semua harus disyukuri? Bentuk syukurnya adalah mematuhi aturan dari Allah sebagaimana matahari, bulan dan bintang-bintang juga patuh dan tunduk terhadap perintah Allah.

Manusia adalah makhluk berakal, sehingga dengan kelebihan itu manusia dapat menggunakan akalnya untuk memikirkan kekuasaan Allah. Untuk manusia, aturan Allah itu berbentuk Din Islam dengan kitabnya adalah al-Quran. Oleh sebab itu tidak layak bagi manusia mana pun untuk mencari aturan lain selain Islam dan al-Quran. Maka barang siapa yang mencari atau membuat aturan lain selain Islam, sudah pasti akan tertolak.

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ الۡإِسۡلٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي الۡأٓخِرَةِ مِنَ الۡخٰسِرِينَ .
“Barang siapa mencari Din selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (Din itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran [3]: 85).

لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ
“Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan.”

Maksudnya adalah bahwa Allah tidak memiliki anak dan tidak pula berstatus sebagai anak. Hal ini sekaligus menyangkal keyakinan yang menyimpang dari kalangan Yahudi dan Nasrani seperti yang telah disebutkan di awal tadi.
Imam al-Bukhari menulis sebuah hadits shahih dari Abu Musa radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لَيۡسَ أَحَدٌ أَوۡ لَيۡسَ شَيۡءٌ أَصۡبَرَ عَلَى أَذًى سَمِعَهُ مِنَ اللهِ إِنَّـهُمۡ لَيَدۡعُونَ لَهُ وَلَدًا وَإِنَّهُ لَيُعَافِيهِمۡ وَيَرۡزُقُهُمۡ . – رواه البخاري و مسلم
“Tidak ada seorang pun, atau tidak ada sesuatu pun yang lebih bersabar atas gangguan yang ia dengar melebihi kesabaran Allah. Sesungguhnya mereka menganggap Allah memiliki anak, namun Allah memaafkan dan memberi mereka rezeki.” (H.R. Al-Bukhari No. 6099 dan Muslim No. 2804).

Menganggap bahwa Allah memiliki anak merupakan sebuah hujatan dan penghinaan yang sangat keji. Allah bahkan berkali-kali menyangkal pernyataan tersebut dalam al-Quran. Namun demikian, Allah masih tetap memberi rezeki kepada mereka.

(Lihat QS. Al-Baqarah [2]: 116, An-Nisa’ [4]: 171, Al-An’am [6]: 100-101, Yunus [10]: 68, Al-Isra’ [17]: 111, Maryam [19]: 35, 88, 91, 92, Al-Anbiya’ [21]: 26, Al-Mukminun [23]: 91, Al-Furqan [25]: 2, Az-Zukhruf [43]: 81).

Makna yang dapat diambil dari sifat Allah ini adalah bahwa kekuasaan Allah atas alam semesta ini bersifat absolut. Allah juga memiliki sifat kekal, tidak akan pernah mati. Sehingga Allah tidak membutuhkan keturunan untuk mewarisi kekuasaan Allah atas alam ini.

Allah juga bukanlah pewaris yang mewarisi dari kekuasaan sebelumnya. Allah adalah Awal dan Akhir, Allah adalah Alpha dan Omega. Allah adalah Zat yang kekal dan abadi dan tidak terpengaruh oleh waktu.

Dengan demikian, seluruh makhluk di dunia ini hidup di bawah kerajaan Allah yang luasnya mencakup langit dan bumi.

فَتَعٰلَى اللَّهُ الۡمَلِكُ الۡحَقُّۖ لَآ إِلٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الۡعَرۡشِ الۡكَرِيمِ .
“Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Ilah selain Dia, Rabb (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia.” (QS. Al-Mukminun [23]: 116).

لِلَّهِ مُلۡكُ السَّمٰوٰتِ وَالۡأَرۡضِ وَمَا فِيهِنَّۚ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ .
“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Maidah [5]: 120).

وَقُلِ الۡحَمۡدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمۡ يَتَّخِذۡ وَلَدٗا وَّلَمۡ يَكُن لَّهُۥ شَرِيكٞ فِي الۡمُلۡكِ وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ وَلِيّٞ مِّنَ الذُّلِّۖ وَكَبِّرۡهُ تَكۡبِيرًا .
“Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” (QS. Al-Isra’ [17]: 111).

Dalam menjalankan kekuasaan-Nya, Allah tidak membutuhkan pewaris, sekutu maupun pembantu di sisi-Nya. Alam semesta ini berada di bawah kekuasaan Allah secara mutlak. Tidak ada yang dapat mengintervensi keputusan Allah. Dan bila Allah berkehendak menciptakan sesuatu, Allah cukup berkata: “Jadilah!” maka jadilah ia.

مَا كَانَ لِلَّهِ أَن يَتَّخِذَ مِن وَلَدٖۖ سُبۡحٰنَهُۥٓۚ إِذَا قَضٰٓى أَمۡرٗا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ .
“Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah!”, maka jadilah ia.” (QS. Maryam [19]: 35).

وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌ
“Dan tidak ada satu pun yang setara dengan-Nya.”

Allah adalah Sang Khaliq, sehingga sangat mustahil bagi makhluk untuk bisa menyamai penciptanya. Hal inilah yang membuat alam semesta tunduk dan patuh kepada Allah. Allah berfirman:

اَللَّهُ لَآ إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الۡحَيُّ الۡقَيُّومُۚ لَا تَأۡخُذُهُۥ سِنَةٞ وَلَا نَوۡمٞۚ لَّهُۥ مَا فِي السَّمٰوٰتِ وَمَا فِي الۡأَرۡضِۗ مَن ذَا الَّذِي يَشۡفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۚ يَعۡلَمُ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيۡءٖ مِّنۡ عِلۡمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَۚ وَسِعَ كُرۡسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالۡأَرۡضَۖ وَلَا يَ‍ُٔودُهُۥ حِفۡظُهُمَاۚ وَهُوَ الۡعَلِيُّ الۡعَظِيمُ .
“Allah, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada seorang pun yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 255).

Ayat kursi menggambarkan betapa jauhnya perbedaan yang ada antara Sang Khaliq dan makhluk. Sungguh tidak ada satu pun makhluk di dunia ini yang mampu menyamai kekuasaan serta keagungan Allah Ta’ala.

Implikasinya adalah sudah seharusnya bagi manusia untuk hanya mengabdikan diri kepada Allah saja. Karena dengan kekuasaan dan keagungan Allah tersebut, tidak ada yang berhak di sembah selain Allah.

إِنَّ هٰذِهِۦٓ أُمَّتُكُمۡ أُمَّةٗ وّٰحِدَةٗ وَّأَنَا۠ رَبُّكُمۡ فَاعۡبُدُونِ .
“Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Rabb-mu, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 92).

Di samping itu, satu hal yang harus tetap diingat, sebagaimana telah disebutkan di awal tadi bahwa setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya, terutama ibadah kepada Allah. Niat yang harus dibangun adalah untuk menggapai keridhaan Allah semata.

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَّشۡرِيۡ نَفۡسَهُ ابۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِ اللَّهِۚ وَاللَّهُ رَءُوفُۢ بِالۡعِبَادِ .
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 207).

Turunnya ayat ini berkenaan dengan seorang sahabat bernama Suhaib Ar-Rumi. Ketika ia akan pergi hijrah menyusul Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah lebih dahulu sampai di Madinah, orang-orang Quraisy menghalangi Suhaib dan berkata, “Hai Suhaib, kamu dahulu datang ke sini tanpa harta, sedangkan sekarang kamu mau pergi meninggalkan kami bersama hartamu, demi Allah, itu tidak akan terjadi selamanya!”

Suhaib menjawab, “Bagaimana menurut kalian jika kuberikan seluruh hartaku lalu kalian biarkan aku pergi?” Orang Quraisy menjawab, “Baiklah, kami setuju”. Sebelum Suhaib sampai di Madinah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengetahui peristiwa itu dan mengabarkan kepada para sahabat di Madinah dengan bersabda,

رَبِحَ الۡبَيۡعُ صُهَيۡبُ ، رَبِحَ الۡبَيۡعُ صُهَيۡبُ .
“Suhaib telah beruntung dengan perniagaannya.”

Setelah Suhaib sampai di Madinah, ia disambut oleh Umar bin Khatthab radhiallahu ‘anhu dan beberapa sahabat lainnya, mereka berkata, “Alangkah beruntungnya perniagaanmu.” Suhaib menjawab, “Begitu pula dengan kalian, aku tidak akan biarkan Allah merugikan perniagaan kalian, dan apa yang aku lakukan itu tidak ada apa-apanya.”

Demikian riwayat yang disampaikan oleh Ibnu Abbas, Anas bin Malik, Sa’id bin Musayyab, Ikrimah radhiallahu ‘anhum dan sejumlah ulama lainnya.

Pada awal tulisan ini telah disebutkan hadits tentang niat dan kisah seorang laki-laki yang berhijrah hanya karena ingin menikahi wanita. Sekarang, di akhir tulisan ini adalah kisah seorang laki-laki yang berhijrah karena cintanya kepada Allah dan Rasul lebih besar dibanding cintanya kepada hartanya.
Niat dan amal adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Niat adalah amalan hati, dan amal adalah aktivitas jasmani yang mencakup perkataan dan perbuatan. Dengan niat mengharapkan keridhaan Allah, amal apa pun yang dikerjakan akan bernilai ibadah di sisi Allah. Namun jika niatnya bukan untuk Allah, maka sebagus apa pun ibadahnya tidak akan bernilai ibadah, bahkan dapat menambah dosa karena telah mempersekutukan Allah.

Ketika niat sudah benar, maka harus diikuti dengan pelaksanaan amal yang benar pula. Jadi, walaupun niatnya sudah benar, jika amalnya salah, maka akan tetap salah. Misalnya adalah berinfak atau sedekah menggunakan harta dari sumber yang haram. Sebagaimana hadits dari Al-Qasim bin Mukhaimirah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنِ اكۡتَسَبَ مَالًا مِنۡ مَأۡثَمٍ فَوَصَلَ بِهِ رَحِمَهُ أَوۡ تَصَدَّقَ بِهِ أَوۡ أَنۡفَقَهُ فِي سَبِيلِ اللهِ جَمَعَ ذَلِكَ كُلَّهُ جَمِيعًا فَقُذِفَ بِهِ فِي جَهَنَّمَ . – رواه أبو داود
“Barang siapa mendapatkan harta dengan jalan dosa (haram) lalu dengan harta itu ia menyambung silaturahmi atau bersedekah atau berinfak di jalan Allah, semuanya akan dikumpulkan dan ia akan dilemparkan dengan amalnya itu ke neraka Jahanam.” (H.R. Abu Daud dalam kitab Al-Marasil. Hadits ini hasan lighairih. Lihat kitab Shahih At-Targhib 2/148 No. 1721).

Menjalani kehidupan di bumi sebagai hamba Allah harus berpedoman kepada kitabullah (al-Quran) dan mengikuti sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Mempelajari dan memahami al-Quran dan sunnah secara komprehensif (menyeluruh) agar bisa diamalkan secara kaffah. Yaitu dengan mengamalkan semua cabang iman dan syariat Islam dengan segenap kemampuan yang dimiliki.

Dan yang tak kalah penting adalah, bersihkan hati, luruskan niat, tetap ikhlas hanya mengharap keridhaan Allah serta membersihkan diri dan jiwa dari segala bentuk kemusyrikan.

* * *

0 Comments