Syafaat, Mengeluarkan Orang Beriman dari Neraka

Syafaat, Mengeluarkan Orang Beriman dari Neraka


Syafaat, Mengeluarkan Orang Beriman dari Neraka - Judul artikel ini diadaptasi dari judul bab pada kitab hadits Shahih Muslim, Kitabul Iman, bab 59 yang berjudul: “Penetapan Syafaat dan Dikeluarkannya Orang-orang Beriman dari Neraka”
إثبات الشفاعة وإخراج الموحدين من النار )

Arti syafaat yang dimaksud adalah pertolongan yang berlaku di hari kiamat. Fungsi syafaat salah satunya adalah untuk mengeluarkan orang-orang beriman yang berdosa dari dalam neraka.

Seluruh ulama Ahlu Sunnah wal Jamaah sepakat mengatakan bahwa penghuni neraka yang memiliki keimanan di dalam hatinya, meskipun hanya sebesar dzarrah akan keluar dari neraka. Baik dengan syafaat para nabi, malaikat, orang mukmin, maupun karena rahmat Allah Ta’ala. Dasar kesepakatan para ulama tersebut adalah dari riwayat-riwayat mutawatir yang sudah tidak diragukan lagi kesahihannya, bahkan banyak dalil hadits di dalamnya yang tergolong hadits qudsi. Seluruh riwayat tersebut menceritakan tentang penghuni neraka yang disiksa karena dosa dan maksiat, mereka diselamatkan ke surga karena adanya iman dalam hatinya, meskipun hanya sedikit.

Imam al-Bukhari dalam Kitab at-Tafsir, Kitab ar-Riqaq, Kitab at-Tauhid dan lain-lain, banyak mengangkat hadits-hadits tentang akan keluarnya orang mukmin dari Neraka, dalam banyak bab dan dari banyak sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Begitu juga Imam Muslim dalam Kitabul Iman, serta imam-imam lainnya, seperti Imam Ahmad, Abu Daud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Para sahabat Nabi yang membawakan hadits-hadits itu di antaranya ialah Anas bin Malik, Jabir bin Abdillah, Abu Hurairah, Abu Sa’id al-Khudri, Abu Dzar, Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhum, dan lain-lain.

Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menukil perkataan al-Qadhi ‘Iyadh, di antaranya sebagai berikut: “… Sesungguhnya, telah datang atsar-atsar yang secara keseluruhan mencapai derajat mutawatir tentang adanya syafaat di akhirat bagi orang-orang mukmin yang berdosa. Ulama terdahulu maupun kemudian, serta ulama sesudahnya dari kalangan Ahlu Sunnah telah sepakat akan adanya syafaat ini. Akan tetapi kaum Khawarij dan sebagian dari kaum Mu’tazilah mengingkarinya. Mereka menggantungkan pengingkaran ini pada madzhab mereka, bahwa orang-orang berdosa akan kekal di Neraka.

Adapun takwil mereka bahwa syafaat ialah peningkatan derajat ahli surga merupakan takwil batil. Sebab hadits-hadits dalam Kitab tersebut juga pada kitab-kitab lain jelas menunjukkan batalnya madzhab mereka, dan jelas menunjukkan akan dikeluarkannya orang mukmin dari Neraka…”
(Sumber: Kitab Shahih Muslim Syarh an-Nawawi, Kitabul-Iman, Bab Itsbat asy-Syafa’ah wa Ikhraj al-Muwahhidin minan-Naar (III/35), tahqiq Khalil Ma’mun Syiha, Penerbit Daar al-Ma’rifah, Beirut, Libanon, Cet. III, 1417H/1996M).

Keyakinan kaum Mu'tazilah dan Khawarij tersebut bertentangan dengan hadits dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

شَفَاعَتِي لِأَهۡلِ الۡكَبَائِرِ مِنۡ أُمَّتِي . – رواه أبو داود والترمذي

"Syafaatku berlaku untuk pelaku dosa besar dari umatku." (H.R. Abu Daud: 4739 dan At-Tirmidzi: 2435. Syaikh Al-Albani mengatakan hadits ini shahih).

Adapun akar dari pembahasan ini adalah firman Allah berikut,

وَإِن مِّنكُمۡ إِلَّا وَارِدُهَاۚ كَانَ عَلٰى رَبِّكَ حَتۡمٗا مَّقۡضِيّٗا .ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَواْ وَّنَذَرُ الظّٰلِمِينَ فِيهَا جِثِيّٗا .
“Dan tidak ada seorang pun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Rabb-mu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan selamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.” (QS. Maryam [19]: 71-72).

Berikut ini adalah hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menceritakan tentang syafaat dan keluarnya orang beriman dari neraka yang sekaligus menjadi penjelasan terhadap ayat tersebut.

عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ أَمَّا أَهۡلُ النَّارِ الَّذِينَ هُمۡ أَهۡلُهَا فَإِنَّـهُمۡ لَا يَـمُوتُونَ فِيهَا وَلَا يَحۡيَوۡنَ وَلَكِنۡ نَاسٌ أَصَابَتۡهُمُ النَّارُ بِذُنُوبِـهِمۡ أَوۡ قَالَ بِخَطَايَاهُمۡ فَأَمَاتَـهُمۡ إِمَاتَةً حَتَّى إِذَا كَانُوا فَحۡمًا أُذِنَ بِالشَّفَاعَةِ فَجِيءَ بِـهِمۡ ضَبَائِرَ ضَبَائِرَ فَبُثُّوا عَلَى أَنۡـهَارِ الۡجَنَّةِ ثُـمَّ قِيلَ يَا أَهۡلَ الۡجَنَّةِ أَفِيضُوۡا عَلَيۡهِمۡ فَيَنۡبُتُونَ نَبَاتَ الۡحِبَّةِ تَكُونُ فِي حَمِيلِ السَّيۡلِ . – رواه مسلم و إبن ماجه
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Adapun penghuni neraka yang abadi, mereka tidak mati dan tidak hidup di dalamnya, namun orang-orang yang masuk neraka karena dosa atau kesalahan mereka, maka mereka benar-benar mati, sehingga apabila mereka telah menjadi arang, mereka diizinkan menerima syafaat lalu dibawa berkelompok-kelompok kemudian dihamburkan ke dalam sungai surga, lalu dikatakan kepada penghuni surga, “Sirami mereka dengan air.” Maka mereka tumbuh segar seperti tumbuhnya biji-bijian yang dialiri air.” (Shahih Muslim No. 185 dan Sunan Ibnu Majah No. 4309).

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan, maksud dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Adapun penghuni neraka yang abadi, maka mereka tidak mati dan tidak hidup”, adalah orang-orang kafir yang merupakan penghuni neraka dan layak untuk kekal di dalamnya, maka mereka tidak mati, dan tidak pula bisa merasakan hidup yang bermanfaat dan enak.

Adapun sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Akan tetapi orang-orang yang masuk neraka karena dosanya… dst.”, maksudnya ialah, bahwa orang-orang yang berdosa dari kalangan orang mukmin, kelak akan dimatikan oleh Allah sesudah mereka disiksa di neraka selama jangka waktu yang Allah kehendaki. Kematian yang ditimpakan oleh Allah terhadap mereka adalah kematian dalam arti sebenarnya, yang dengan kematian itu lenyaplah rasa sakit.

Jadi, siksa terhadap mereka sesuai dengan kadar dosanya. Lalu Allah matikan mereka, dan untuk sementara waktu (dalam keadaan mati) sesuai dengan takdir Allah, mereka tetap tersekap di neraka tanpa merasakan apa-apa.

Selanjutnya, dalam keadaan mati, mereka yang telah menjadi arang dikeluarkan dari neraka, lalu dibawa dalam kelompok-kelompok yang terpisah-pisah sebagaimana layaknya barang. Setelah itu mereka dimasukkan ke dalam sungai-sungai di surga, lalu disiram dengan air kehidupan. Maka hidup dan tumbuhlah mereka laksana benih yang tumbuh di lumpur-lumpur yang terbawa arus air, demikian cepat dan lemahnya.

Tumbuhnya manusia itu, awalnya muncul kekuningan dan lentur karena lemahnya. Semakin lama semakin kuat, lalu mereka kembali seperti sediakala dan semakin sempurna.
(Sumber: Shahih Muslim Syarh an-Nawawi (III/37-38), syarh hadits No. 458, tahqiq Khalil Ma’mun Syiha).

عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ الۡخُدۡرِيِّ I أَنَّ النَّبِيَّ قَالَ، إِذَا دَخَلَ أَهۡلُ الۡجَنَّةِ الۡجَنَّةَ وَأَهۡلُ النَّارِ النَّارَ يَقُولُ اللَّهُ مَنۡ كَانَ فِي قَلۡبِهِ مِثۡقَالُ حَبَّةٍ مِنۡ خَرۡدَلٍ مِنۡ إِيـۡمَانٍ فَأَخۡرِجُوهُ فَيَخۡرُجُونَ قَدۡ امۡتُحِشُوا وَعَادُوا حُمَمًا فَيُلۡقَوۡنَ فِي نَـهَرِ الۡحَيَاةِ فَيَنۡبُتُونَ كَمَا تَنۡبُتُ الۡحِبَّةُ فِي حَمِيلِ السَّيۡلِ أَوۡ قَالَ حَمِيَّةِ السَّيۡلِ وَقَالَ النَّبِيُّ أَلَـمۡ تَرَوۡا أَنَّـهَا تَنۡبُتُ صَفۡرَاءَ مُلۡتَوِيَةً . – رواه البخاري
Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika penghuni surga telah memasuki surga, dan penghuni neraka memasuki neraka, Allah berfirman; ‘Siapa saja yang dalam hatinya masih terdapat keimanan sebesar biji sawi, keluarkanlah dia dari neraka,’ maka mereka pun keluar setelah mereka terbakar dan menjadi abu, selanjutnya mereka dimasukkan ke sungai kehidupan sehingga mereka tumbuh sebagaimana biji-bijian tumbuh di tepi aliran sungai” atau ia mengatakan dengan redaksi; “dalam permukaan aliran sungai”, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidakkah kalian melihat bahwa biji-bijian itu tumbuh berwarna kuning dan melingkar?” (Shahih Al-Bukhari No. 6560).

عَنۡ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ يَخۡرُجُ مِنَ النَّارِ مَنۡ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَفِي قَلۡبِهِ وَزۡنُ شَعِيرَةٍ مِنۡ خَيۡرٍ وَيَخۡرُجُ مِنَ النَّارِ مَنۡ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَفِي قَلۡبِهِ وَزۡنُ بُرَّةٍ مِنۡ خَيۡرٍ وَيَخۡرُجُ مِنَ النَّارِ مَنۡ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَفِي قَلۡبِهِ وَزۡنُ ذَرَّةٍ مِنۡ خَيۡرٍ. – رواه البخاري
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan dikeluarkan dari neraka siapa yang mengatakan Laa ilaaha illallah dan dalam hatinya ada kebaikan sebesar biji gandum. Dan akan dikeluarkan dari neraka siapa yang mengatakan Laa Ilaaha Illallah dan dalam hatinya ada kebaikan sebesar burrah (jawawut). Dan akan dikeluarkan dari neraka siapa yang mengatakan Laa Ilaaha Illallah dan dalam hatinya ada kebaikan sebesar dzarrah.” (Shahih Al-Bukhari No. 44).

حَدَّثَنَا أَنَسُ بۡنُ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ يَخۡرُجُ مِنَ النَّارِ مَنۡ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَكَانَ فِي قَلۡبِهِ مِنَ الۡخَيۡرِ مَا يَزِنُ شَعِيرَةً ثُمَّ يَخۡرُجُ مِنَ النَّارِ مَنۡ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَكَانَ فِي قَلۡبِهِ مِنَ الۡخَيۡرِ مَا يَزِنُ بُرَّةً ثُمَّ يَخۡرُجُ مِنَ النَّارِ مَنۡ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَكَانَ فِي قَلۡبِهِ مِنَ الۡخَيۡرِ مَا يَزِنُ ذَرَّةً . – رواه مسلم
Telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan keluar dari neraka, orang-orang yang mengucapkan, “Laa Ilaaha Illallah”, dan di dalam hatinya terdapat kebaikan seberat biji gandum. Kemudian akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, “Laa Ilaaha Illallah”, dan di dalam hatinya terdapat kebaikan seberat burrah (jawawut). Kemudian akan keluar dari neraka, orang yang mengucapkan, “Laa Ilaaha Illallah”, dan di dalam hatinya terdapat kebaikan seberat dzarrah.” (Shahih Muslim No. 193).

عَنۡ قَتَادَةَ حَدَّثَنَا أَنَسُ بۡنُ مَالِكٍ عَنِ النَّبِيِّ  قَالَ يَخۡرُجُ قَوۡمٌ مِنَ النَّارِ بَعۡدَ مَا مَسَّهُمۡ مِنۡهَا سَفۡعٌ فَيَدۡخُلُونَ الۡجَنَّةَ فَيُسَمِّيهِمۡ أَهۡلُ الۡجَنَّةِ الۡجَهَنَّمِيِّينَ . – رواه البخاري
Dari Qatadah Telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada sekelompok kaum yang keluar dari neraka dan wajahnya kehitam-hitaman setelah dilahap api, lalu mereka masuk surga, para penghuni surga menjuluki mereka Jahannamiyun (mantan penghuni Jahannam).” (Shahih Al-Bukhari No. 6559 dan 6566).

Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiallahu 'anhu dalam hadits yang sangat panjang menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda;

... ثُمَّ يَرۡفَعُونَ رُءُوسَهُمۡ وَقَدۡ تَحَوَّلَ فِي صُورَتِهِ الَّتِي رَأَوۡهُ فِيهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمۡ فَيَقُولُونَ أَنۡتَ رَبُّنَا ثُمَّ يُضۡرَبُ الۡجِسۡرُ عَلَى جَهَنَّمَ وَتَحِلُّ الشَّفَاعَةُ وَيَقُولُونَ اللَّهُمَّ سَلِّمۡ سَلِّمۡ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الۡجِسۡرُ قَالَ دَحۡضٌ مَزِلَّةٌ فِيهِ خَطَاطِيفُ وَكَلَالِيبُ وَحَسَكٌ تَكُونُ بِنَجۡدٍ فِيهَا شُوَيۡكَةٌ يُقَالُ لَهَا السَّعۡدَانُ فَيَمُرُّ الۡمُؤۡمِنُونَ كَطَرۡفِ الۡعَيۡنِ وَكَالۡبَرۡقِ وَكَالرِّيحِ وَكَالطَّيۡرِ وَكَأَجَاوِيدِ الۡخَيۡلِ وَالرِّكَابِ فَنَاجٍ مُسَلَّمٌ وَمَخۡدُوشٌ مُرۡسَلٌ وَمَكۡدُوسٌ فِي نَارِ جَهَنَّمَ
حَتَّى إِذَا خَلَصَ الۡمُؤۡمِنُونَ مِنۡ النَّارِ فَوَالَّذِي نَفۡسِي بِيَدِهِ مَا مِنۡكُمۡ مِنۡ أَحَدٍ بِأَشَدَّ مُنَاشَدَةً لِلَّهِ فِي اسۡتِقۡصَاءِ الۡحَقِّ مِنۡ الۡمُؤۡمِنِينَ لِلَّهِ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ لِإِخۡوَانِهِمۡ الَّذِينَ فِي النَّارِ يَقُولُونَ رَبَّنَا كَانُوا يَصُومُونَ مَعَنَا وَيُصَلُّونَ وَيَحُجُّونَ فَيُقَالُ لَهُمۡ أَخۡرِجُوا مَنۡ عَرَفۡتُمۡ فَتُحَرَّمُ صُوَرُهُمۡ عَلَى النَّارِ فَيُخۡرِجُونَ خَلۡقًا كَثِيرًا قَدۡ أَخَذَتۡ النَّارُ إِلَى نِصۡفِ سَاقَيۡهِ وَإِلَى رُكۡبَتَيۡهِ
ثُمَّ يَقُولُونَ رَبَّنَا مَا بَقِيَ فِيهَا أَحَدٌ مِمَّنۡ أَمَرۡتَنَا بِهِ فَيَقُولُ ارۡجِعُوا فَمَنۡ وَجَدۡتُمۡ فِي قَلۡبِهِ مِثۡقَالَ دِينَارٍ مِنۡ خَيۡرٍ فَأَخۡرِجُوهُ فَيُخۡرِجُونَ خَلۡقًا كَثِيرًا ثُمَّ يَقُولُونَ رَبَّنَا لَمۡ نَذَرۡ فِيهَا أَحَدًا مِمَّنۡ أَمَرۡتَنَا ثُمَّ يَقُولُ ارۡجِعُوا فَمَنۡ وَجَدۡتُمۡ فِي قَلۡبِهِ مِثۡقَالَ نِصۡفِ دِينَارٍ مِنۡ خَيۡرٍ فَأَخۡرِجُوهُ فَيُخۡرِجُونَ خَلۡقًا كَثِيرًا ثُمَّ يَقُولُونَ رَبَّنَا لَمۡ نَذَرۡ فِيهَا مِمَّنۡ أَمَرۡتَنَا أَحَدًا ثُمَّ يَقُولُ ارۡجِعُوا فَمَنۡ وَجَدۡتُمۡ فِي قَلۡبِهِ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ مِنۡ خَيۡرٍ فَأَخۡرِجُوهُ فَيُخۡرِجُونَ خَلۡقًا كَثِيرًا ثُمَّ يَقُولُونَ رَبَّنَا لَمۡ نَذَرۡ فِيهَا خَيۡرًا
وَكَانَ أَبُو سَعِيدٍ الۡخُدۡرِيُّ يَقُولُ إِنۡ لَمۡ تُصَدِّقُونِي بِهَذَا الۡحَدِيثِ فَاقۡرَءُوا إِنۡ شِئۡتُمۡ « إِنَّ اللَّهَ لَا يَظۡلِمُ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنۡ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفۡهَا وَيُؤۡتِ مِنۡ لَدُنۡهُ أَجۡرًا عَظِيمًا » فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ شَفَعَتۡ الۡمَلَائِكَةُ وَشَفَعَ النَّبِيُّونَ وَشَفَعَ الۡمُؤۡمِنُونَ وَلَمۡ يَبۡقَ إِلَّا أَرۡحَمُ الرَّاحِمِينَ فَيَقۡبِضُ قَبۡضَةً مِنۡ النَّارِ فَيُخۡرِجُ مِنۡهَا قَوۡمًا لَمۡ يَعۡمَلُوا خَيۡرًا قَطُّ قَدۡ عَادُوا حُمَمًا فَيُلۡقِيهِمۡ فِي نَهَرٍ فِي أَفۡوَاهِ الۡجَنَّةِ يُقَالُ لَهُ نَهَرُ الۡحَيَاةِ فَيَخۡرُجُونَ كَمَا تَخۡرُجُ الۡحِبَّةُ فِي حَمِيلِ السَّيۡلِ أَلَا تَرَوۡنَهَا تَكُونُ إِلَى الۡحَجَرِ أَوۡ إِلَى الشَّجَرِ مَا يَكُونُ إِلَى الشَّمۡسِ أُصَيۡفِرُ وَأُخَيۡضِرُ وَمَا يَكُونُ مِنۡهَا إِلَى الظِّلِّ يَكُونُ أَبۡيَضَ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّكَ كُنۡتَ تَرۡعَى بِالۡبَادِيَةِ قَالَ فَيَخۡرُجُونَ كَاللُّؤۡلُؤِ فِي رِقَابِهِمۡ الۡخَوَاتِمُ يَعۡرِفُهُمۡ أَهۡلُ الۡجَنَّةِ هَؤُلَاءِ عُتَقَاءُ اللَّهِ الَّذِينَ أَدۡخَلَهُمۡ اللَّهُ الۡجَنَّةَ بِغَيۡرِ عَمَلٍ عَمِلُوهُ وَلَا خَيۡرٍ قَدَّمُوهُ ثُمَّ يَقُولُ ادۡخُلُوا الۡجَنَّةَ فَمَا رَأَيۡتُمُوهُ فَهُوَ لَكُمۡ فَيَقُولُونَ رَبَّنَا أَعۡطَيۡتَنَا مَا لَمۡ تُعۡطِ أَحَدًا مِنۡ الۡعَالَمِينَ فَيَقُولُ لَكُمۡ عِنۡدِي أَفۡضَلُ مِنۡ هَذَا فَيَقُولُونَ يَا رَبَّنَا أَيُّ شَيۡءٍ أَفۡضَلُ مِنۡ هَذَا فَيَقُولُ رِضَايَ فَلَا أَسۡخَطُ عَلَيۡكُمۡ بَعۡدَهُ أَبَدًا ... – رواه مسلم
“... Kemudian mereka mengangkat kepala mereka dan Allah telah berubah ke bentuk yang dapat mereka lihat pertama kalinya, Allah berfirman: “Aku adalah Rabb kalian.” Maka mereka berkata; “Engkau Rabb kami.” Kemudian dibentangkan jembatan di atas neraka Jahanam, dan berlakulah syafaat pada saat itu, mereka bergumam; “Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah.” Ada sahabat yang bertanya; “Wahai Rasulullah, ada apa dengan jembatan itu?” Beliau menjawab; “Tempat yang licin dan menggelincirkan, di sana terdapat besi-besi pencakar, besi-besi pengait dan duri seperti duri tanaman yang ada di Najd, mereka menyebutnya tanaman sa'dan. Maka orang-orang mukmin akan melewatinya seperti kedipan mata, seperti kilat, seperti angin, seperti burung, seperti kuda-kuda yang berlari kencang, dan hewan tunggangan. Maka orang muslim akan ada yang selamat, ada yang tercabik-cabik terhambat dan ada yang terlempar ke dalam neraka Jahanam.

Sehingga ketika orang-orang mukmin terbebas dari neraka, maka demi Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya, tidak ada seorang pun dari kalian yang begitu gigih memohon kepada Allah dalam menuntut kebenaran pada hari kiamat dibandingkan dengan orang mukmin ketika memohon kepada Allah untuk menolong saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka, mereka berseru; “Ya Rabb kami, mereka selalu berpuasa bersama kami, shalat bersama kami, dan berhaji bersama kami.” Maka dikatakan kepada mereka; “Keluarkanlah orang-orang yang kalian ketahui.” Maka bentuk-bentuk mereka hitam kelam karena terpanggang api neraka, kemudian mereka mengeluarkan begitu banyak orang yang telah di makan api neraka sampai pada pertengahan betisnya dan sampai kedua lututnya.

Kemudian mereka berkata; “Wahai Rabb kami, tidak tersisa lagi seseorang pun yang telah engkau perintahkan kepada kami.” Kemudian Allah berfirman; “Kembalilah kalian, maka barang siapa yang kalian temukan di dalam hatinya kebaikan seberat dinar, maka keluarkanlah dia.” Mereka pun mengeluarkan jumlah yang begitu banyak, kemudian mereka berkata; “Wahai Rabb kami, kami tidak meninggalkan di dalamnya seorang pun yang telah Engkau perintahkan kepada kami.”

Kemudian Allah berfirman; “Kembalilah kalian, maka barang siapa yang kalian temukan di dalam hatinya kebaikan seberat setengah dinar, maka keluarkanlah dia.” Maka mereka pun mengeluarkan jumlah yang banyak. Kemudian mereka berkata lagi; “Wahai Rabb kami, kami tidak menyisakan di dalamnya seorang pun yang telah Engkau perintahkan kepada kami.” Kemudian Allah berfirman; “Kembalilah kalian, maka siapa saja yang kalian temukan di dalam hatinya kebaikan seberat biji dzarrah (atom), keluarkanlah.” Maka mereka pun kembali mengeluarkan jumlah yang begitu banyak. Kemudian mereka berkata; “Wahai Rabb kami, kami tidak menyisakan di dalamnya kebaikan sama sekali.”

Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Jika kalian tidak mempercayai hadits ini silakan kalian baca ayat: “Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar dzarrah, dan jika ada kebajikan sebesar dzarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.” (QS. An Nisa [4]: 40).

Allah ‘Azza wa Jalla lantas berfirman: “Para Malaikat, Nabi dan orang-orang yang beriman telah memberi syafaat, sekarang yang belum memberikan syafaat adalah Dzat Yang Maha Pengasih.” Kemudian Allah menggenggam satu genggaman dari dalam neraka, dari dalam tersebut Allah mengeluarkan suatu kaum yang sama sekali tidak melakukan kebaikan, dan mereka pun sudah berbentuk seperti arang hitam. Allah kemudian memasukkan mereka ke dalam sungai di depan surga yang disebut dengan sungai kehidupan. Mereka kemudian keluar dari dalam sungai layaknya biji yang tumbuh di aliran sungai, tidakkah kalian lihat ia tumbuh merambat di bebatuan atau pepohonan mengejar sinar matahari. Kemudian mereka ada yang berwarna kekuningan dan kehijauan, sementara yang berada di bawah bayangan akan berwarna putih.”

Para sahabat kemudian berkata, “Seakan-akan baginda sedang menggembala di daerah orang-orang badui?” Beliau melanjutkan: “Mereka kemudian keluar seperti mutiara, sementara di lutut-lutut mereka terdapat cincin yang bisa diketahui oleh penduduk surga. Dan mereka adalah orang-orang yang Allah merdekakan dan Allah masukkan ke dalam surga tanpa amalan dan kebaikan sama sekali.”

Lalu Allah berfirman: “Masuklah kalian ke dalam surga. Apa yang kalian lihat maka itu milik kalian.” Mereka pun menjawab, “Wahai Rabb kami, sungguh Engkau telah memberikan kami sesuatu yang belum pernah Engkau berikan kepada seorang pun dari penduduk bumi.” Allah kemudian berfirman: “Bahkan apa yang telah Kami siapkan untuk kalian lebih baik dari ini semua.” Mereka kembali berkata, “Ya Rabb kami, apa yang lebih baik dari ini semua?” Allah menjawab: “Keridhaan-Ku, selamanya Aku tidak akan pernah murka kepada kalian...”
(Shahih Muslim No. 183. Imam Al-Bukhari (No. 7439) juga meriwayatkan hadits ini dengan sanad dan lafaz yang berbeda).

Memahami hadits ini, Imam Hasan Al-Basri berpesan,
استكثروا من الأصدقاء المؤمنين فإن لهم شفاعة يوم القيامة .
“Perbanyaklah berteman dengan orang-orang beriman, karena mereka memiliki syafaat di hari kiamat.”

Syaikh Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah juga berwasiat kepada teman-teman dan murid-murid beliau,

إن لم تجدوني في الجنة بينكم فاسألوا عني وقولوا : يا ربنا عبدك فلان كان يذكرنا بك .
“Jika kalian tidak menemukanku di surga bersama kalian, tanyakanlah tentang aku kepada Allah. Katakanlah: “Ya Rabb kami, hamba-Mu Fulan, dulu dia pernah mengingatkan kami untuk mengingat Engkau”.” Setelah berpesan demikian, beliau pun menangis.

Hadits tersebut menjadi dalil yang kuat bahwa sahabat dan teman karib yang saleh dapat menjadi pemberi syafaat di hari kiamat nanti. Hadits ini juga sekaligus menjadi penjelasan untuk firman Allah berikut:

فَمَا لَنَا مِن شٰفِعِينَ .وَلَا صَدِيقٍ حَمِيمٍ .
“Maka kami tidak mempunyai pemberi syafaat seorang pun, dan tidak pula mempunyai teman yang akrab,” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 100-101).

Yang dimaksud dengan hamim dalam ayat tersebut adalah kerabat. Qatadah berkata: "Demi Allah. Mereka mengetahui bahwa teman yang saleh itu dapat memberi manfaat dan kerabat yang saleh dapat memberi syafaat." (Lihat Tafsir Ibnu Katsir).

حَدَّثَنَا عُثۡمَانُ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنۡ مَنۡصُورٍ عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ عَنۡ عَبِيدَةَ عَنۡ عَبۡدِ اللَّهِ I قَالَ النَّبِيُّ إِنِّي لَأَعۡلَمُ آخِرَ أَهۡلِ النَّارِ خُرُوجًا مِنۡهَا وَآخِرَ أَهۡلِ الۡجَنَّةِ دُخُولًا رَجُلٌ يَخۡرُجُ مِنَ النَّارِ كَبۡوًا فَيَقُولُ اللَّهُ إِذۡهَبۡ فَادۡخُلِ الۡجَنَّةَ فَيَأۡتِيهَا فَيُخَيَّلُ إِلَيۡهِ أَنَّـهَا مَلۡأَى فَيَرۡجِعُ فَيَقُولُ يَا رَبِّ وَجَدۡتُـهَا مَلۡأَى فَيَقُولُ إِذۡهَبۡ فَادۡخُلِ الۡجَنَّةَ فَيَأۡتِيهَا فَيُخَيَّلُ إِلَيۡهِ أَنَّـهَا مَلۡأَى فَيَرۡجِعُ فَيَقُولُ يَا رَبِّ وَجَدۡتُـهَا مَلۡأَى فَيَقُولُ إِذۡهَبۡ فَادۡخُلِ الۡجَنَّةَ فَإِنَّ لَكَ مِثۡلَ الدُّنۡيَا وَعَشَرَةَ أَمۡثَالِـهَا أَوۡ إِنَّ لَكَ مِثۡلَ عَشَرَةِ أَمۡثَالِ الدُّنۡيَا فَيَقُولُ تَسۡخَرُ مِنِّي أَوۡ تَضۡحَكُ مِنِّي وَأَنۡتَ الۡمَلِكُ فَلَقَدۡ رَأَيۡتُ رَسُولَ اللَّهِ ضَحِكَ حَتَّى بَدَتۡ نَوَاجِذُهُ وَكَانَ يَقُولُ ذَاكَ أَدۡنَى أَهۡلِ الۡجَنَّةِ مَنۡزِلَةً . – رواه البخاري
Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Jarir dari Manshur dari Ibrahim dari Abidah dari Abdullah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh aku tahu penghuni neraka yang terakhir kali keluar dan penghuni surga yang terakhir kali masuk, yaitu seseorang yang keluar dari neraka dengan merangkak, Allah berfirman; ‘Pergilah kamu dan masuklah ke dalam surga!’ maka orang tersebut mendatangi surga dan terbayang olehnya bahwa surga telah penuh. Orang itu kembali dan berujar; ‘Ya Rabb-ku, aku lihat surga telah penuh’.

Allah berfirman lagi; ‘Pergi dan masuklah ke surga.’ Maka kembali terbayang olehnya bahwa surga telah penuh. Lalu ia kembali dan berkata; ‘Ya Rabb-ku, aku lihat surga telah penuh.’ Allah berfirman lagi; ‘Pergi dan masuklah ke surga, dan bagimu surga seluas dunia dan bahkan sepuluh kali lipatnya–atau bagimu seperti sepuluh kali dunia.’

Hamba tadi lantas berkata; ‘Engkau menghinaku atau menertawakanku, sedang Engkau adalah Raja Yang Maha Tinggi?” Dan kulihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa hingga gigi gerahamnya terlihat lalu bersabda: “Itulah penghuni surga di tingkatan paling rendah.” (Shahih Al-Bukhari No. 6571).

Masih banyak lagi hadits-hadits shahih lain yang menjelaskan tentang syafaat di hari kiamat dan tidak memungkinkan untuk dimuat seluruhnya ke dalam artikel ini.

Setelah pemaparan ini, mungkin akan ada yang berargumen bahwa tak masalah berbuat dosa, karena akhirnya akan dapat syafaat dan masuk surga juga. Dilihat dari sudut pandang mana pun, tanggapan seperti itu tetap keliru. Mari perhatikan hadits berikut sebagai perbandingan:

عَنۡ عَلِيٍّ I قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ فِي بَقِيعِ الۡغَرۡقَدِ فِي جَنَازَةٍ فَقَالَ مَا مِنۡكُمۡ مِنۡ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدۡ كُتِبَ مَقۡعَدُهُ مِنَ الۡجَنَّةِ وَمَقۡعَدُهُ مِنَ النَّارِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نَتَّكِلُ فَقَالَ اعۡمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ ثُمَّ قَرَأَ « فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطٰى وَاتَّقٰى وَصَدَّقَ بِالۡحُسۡنٰى إِلَى قَوۡلِهِ لِلۡعُسۡرٰى » – رواه البخاري
Dari Ali radhiallahu 'anhu ia berkata; saat kami melayat jenazah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tepatnya di Baqi' Al-Gharqad, beliau bersabda:

“Tidak ada seorang pun dari kalian kecuali tempat duduknya dari surga atau dari neraka telah ditulis.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kalau begitu kita sebaiknya bertawakal saja?” beliau menjawab: “Beramallah kalian, sebab setiap orang akan dimudahkan.” Kemudian beliau membaca firman Allah:
“Dan adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, serta membenarkan adanya pahala terbaik (surga), maka Kami akan siapkan jalan yang mudah. Dan adapun orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik (surga), maka Kami akan siapkan jalan yang sulit.” (QS. Al-Lail [92]: 5-10). (Shahih Al-Bukhari No. 4945).

Dalam hadits tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa tempat akhir setiap manusia di akhirat, apakah surga atau di neraka, telah Allah tulis di Lauh Mahfuzh. Menanggapi hal ini, sikap kita adalah tetap beramal dan beribadah sebagai tugas pengabdian kepada Allah, menjalankan serta menaati seluruh perintah Allah dan meninggalkan serta menjauhi segala hal yang dilarang oleh Allah. Setiap amal saleh yang dilakukan di dunia akan memudahkan kita untuk mencapai surga. Semakin banyak amal saleh maka semakin mudah, begitu pula sebaliknya, semakin sedikit amal saleh karena banyaknya perbuatan dosa, maka akan semakin sulit untuk mencapai surga, hingga harus disiksa di dalam neraka terlebih dahulu.

Kesimpulannya, berdasarkan riwayat-riwayat di atas dan riwayat-riwayat lain yang jumlahnya mencapai derajat mutawatir, serta keterangan para ulama, maka setiap penghuni Neraka yang memiliki keimanan, meskipun hanya seberat biji sawi, ia tidak akan kekal di neraka. Suatu saat ia pasti akan keluar dari Neraka dan masuk ke dalam surga. Baik dengan syafaat para pemberi syafaat—termasuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam—maupun langsung dengan rahmat Allah. Inilah keyakinan seluruh Ahlu Sunnah wal Jamaah dari dulu hingga kapan pun, dan inilah keyakinan yang benar, in-sya Allah.

عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ كُلُّ أُمَّتِي يَدۡخُلُونَ الۡجَنَّةَ إِلَّا مَنۡ أَبَى. قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ وَمَنۡ يَأۡبَى؟ قَالَ مَنۡ أَطَاعَنِي دَخَلَ الۡجَنَّةَ وَمَنۡ عَصَانِي فَقَدۡ أَبَى . – رواه البخاري
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seluruh umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa yang enggan?” Nabi menjawab: “Siapa yang taat kepadaku akan masuk surga dan siapa yang membangkang kepadaku berarti ia enggan.” (Shahih Al-Bukhari No. 7280).

عَنۡ عُثۡمَانَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ مَنۡ مَاتَ وَهُوَ يَعۡلَمُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الۡجَنَّةَ . – رواه مسلم
Dari Utsman radhiallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang mati dan ia mengetahui bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah, niscaya dia masuk surga.” (Shahih Muslim No. 26).

Wallahu A’lam...
* * *

0 Comments