Hapuskan Dosa dengan Shalat Lima Waktu

Hapuskan Dosa dengan Shalat Lima Waktu


Hapuskan Dosa dengan Shalat Lima Waktu - Kita telah diperintahkan untuk bertakwa kepada Allah Ta'ala di mana pun dan kapan pun serta dalam keadaan bagaimanapun. Namun terkadang kita bisa saja lalai dalam melaksanakan ketaatan tersebut.

Boleh jadi kita meninggalkan hal yang diperintahkan, atau terjerumus ke dalam perkara yang dilarang. Dalam keadaan demikian, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pun memerintahkan kepada kita untuk menghapus kejelekan (dosa) tersebut dengan kebajikan (amal shalih).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah memberi nasehat kepada Abu Dzar Al-Ghifariy Jundub bin Junadah,

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنۡتَ وَأَتۡبِعِ السَّيِّئَةَ الۡحَسَنَةَ تَمۡحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ .

"Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada dan iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan akan menghapuskannya dan bergaullah dengan sesama manusia dengan akhlak yang baik."
(HR. At-Tirmidzi No. 1987. Abu Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan lighairih, hasan dilihat dari jalur lain. Lihat Shahih At-Targhib wat-Tarhib 2655).

Salah satu bentuk ketaatan kita kepada Allah adalah dengan menunaikan kewajiban-kewajiban kepada Allah. Di antara kewajiban-kewajiban tersebut adalah shalat lima waktu yang merupakan tiang agama Islam.

Dari Mu'adz bin Jabal radhiallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

أَلَا أُخْبِرُكَ بِرَأۡسِ الۡأَمۡرِ كُلِّهِ وَعَمُودِهِ وَذِرۡوَةِ سَنَامِهِ قُلۡتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ رَأۡسُ الۡأَمۡرِ الۡإِسۡلَامُ وَعَمُودُهُ الصَّلَاةُ وَذِرۡوَةُ سَنَامِهِ الۡجِهَادُ .

"Maukah kamu kutunjukkan pokok segala perkara agama, tiangnya dan puncaknya?" Aku menjawab, "Ya, wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Pokok dari segala perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad." (H.R. At-Tirmidzi No. 2616).

Allah Ta'ala juga berfirman,

وَأَقِمِ الصَّلٰوةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفٗا مِّنَ الَّيۡلِۚ إِنَّ الۡحَسَنٰتِ يُذۡهِبۡنَ السَّيِّ‍َٔاتِۚ ذٰلِكَ ذِكۡرٰى لِلذّٰكِرِينَ .

"Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat." (QS. Hud [11]: 114).

Dalam ayat yang lain, ketika Allah menceritakan sifat-sifat orang yang bertakwa, Allah pun berfirman,

وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَٰحِشَةً أَوۡ ظَلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ذَكَرُواْ ٱللَّهَ فَٱسۡتَغۡفَرُواْ لِذُنُوبِهِمۡ وَمَن يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمۡ يُصِرُّواْ عَلَىٰ مَا فَعَلُواْ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ .

"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." (QS. Ali Imran: 135).

Ayat ini menunjukkan bahwa sifat orang yang bertakwa adalah bila terjerumus dalam dosa-dosa perbuatan keji (faahisyah) dan juga dosa-dosa kecil (zhulmun nafs), mereka tidak terus menerus berbuat dosa. Bahkan mereka mengingat Allah setelah mereka terjerumus dalam dosa tersebut, dan mereka pun memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat.

Shalat Lima Waktu Pelebur Dosa
Maksud dari kalimat "perbuatan-perbuatan yang baik" dalam surat Hud ayat 14 di atas adalah shalat lima waktu, karena ayat ini dalam konteks membicarakan masalah shalat. Tafsiran ini adalah tafsiran dari Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, Mujahid dan mayoritas ulama. Sedangkan yang dimaksud dengan perbuatan-perbuatan yang buruk dalam ayat tersebut adalah dosa-dosa kecil saja, bukan semua dosa. (Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauziy, 3/388, Mawqi’ At-Tafaasir).

Penafsiran ini disandarkan pada sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,

عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ يَقُولُ أَرَأَيۡتُمۡ لَوۡ أَنَّ نَـهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمۡ يَغۡتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَومٍ خَمۡسًا مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبۡقِي مِنۡ دَرَنِهِ قَالُوا لَا يُبۡقِي مِنۡ دَرَنِهِ شَيۡئًا قَالَ فَذَلِكَ مِثۡلُ الصَّلَوَاتِ الۡخَمۡسِ يَمۡحُ اللهُ بِهِ الخَطَايَا .

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bagaimana pendapat kalian jika seandainya ada sungai di depan pintu rumah salah seorang dari kalian, lalu ia mandi di sungai itu lima kali setiap hari? Apakah menurut kalian masih ada kotoran yang tersisa di badannya?" Para sahabat menjawab, "Tidak akan ada kotoran yang tersisa padanya." Lalu beliau bersabda: "Seperti itulah shalat lima waktu, yang dengannya Allah akan hapuskan semua kesalahan." (H.R. Al-Bukhari No. 528 dan Muslim No. 667).

Dalam hadits riwayat Imam Muslim disebutkan pula dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

الصَّلَوَاتُ الۡخَمۡسُ وَالۡجُمُعَةُ إِلَى الۡجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيۡنَهُنَّ إِذَا اجۡتَنَبَ الۡكَبَائِرَ .

"Antara shalat lima waktu, antara Jum’at yang satu dan Jum’at berikutnya, antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, adalah penghapus dosa-dosa di antara keduanya selama menjauhi dosa-dosa besar." (H.R. Muslim No. 233).

Bahkan dikuatkan pula dengan firman Allah dalam surat An Nisa’,

إِن تَجۡتَنِبُواْ كَبَآئِرَ مَا تُنۡهَوۡنَ عَنۡهُ نُكَفِّرۡ عَنكُمۡ سَيِّ‍َٔاتِكُمۡ وَنُدۡخِلۡكُم مُّدۡخَلٗا كَرِيمٗا .

"Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)." (QS. An Nisa’ [4]: 31).

Kalimat "kesalahan-kesalahanmu" ditafsirkan dengan dosa-dosamu yang kecil sebagaimana yang dikatakan oleh As-Sudiy. (Lihat Zaadul Masiir 2/22).

Dalam tafsir Jalalain juga dikatakan bahwa maksudnya adalah dosa-dosa kecil, dan dosa tersebut dapat dihapus dengan melakukan ketaatan. (Lihat Tafsir Jalalain hlm. 83, Maktabah As-Shafa, cetakan pertama).

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa dosa-dosa kecil bisa terhapus dengan amalan ketaatan, di antaranya adalah shalat fardhu. Antara shalat Shubuh dan Zhuhur, Ashar dan Maghrib, Maghrib dan Isya, Isya dan Shubuh, di antara keduanya terdapat pengampunan dosa (yaitu dosa kecil) dengan menunaikan shalat lima waktu.

Namun perlu diketahui bahwa dosa-dosa kecil ini bisa terhapus dengan amalan wajib apabila menjauhi dosa-dosa besar. Pendapat inilah yang diyakini mayoritas ulama-ulama terdahulu.

Artinya, menjauhi dosa besar merupakan syarat agar dosa kecil itu bisa dihapus dengan amalan-amalan wajib. Jika dosa besar tidak dijauhi, maka dosa kecil tidak bisa terhapus dengan sekedar melakukan amalan wajib. (Lihat Jaami’ul 'Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al-Hambali, hlm. 204-205, Darul Muayyid, cetakan pertama, 1424 H).

Ibnu Mas'ud radhiallahu 'anhu mengatakan, "Shalat lima waktu menghapuskan setiap dosa di antara waktu-waktu tersebut selama seseorang menjauhi dosa besar." (Lihat Jaami'ul 'Ulum hlm. 205).

Salman mengatakan, "Jagalah shalat lima waktu karena shalat lima waktu adalah pelebur dosa yang diperbuat tubuh ini selama tidak melakukan dosa pembunuhan." (Lihat Jaami'ul 'Ulum hlm. 205).

Adapun dosa besar bisa terhapus dengan taubat nasuha. (Lihat Jaami'ul 'Ulum hlm. 206).

Yang namanya taubat adalah dengan menyesali setiap dosa, bertekad untuk tidak mengulanginya lagi, tidak terus menerus dalam dosa. Dapat dibaca pada artikel kami sebelumnya:

Semoga Allah menerima taubat kita dan mengampuni setiap dosa kita.

* * *

0 Comments