Istighfar Membuka Pintu Rezeki

Istighfar Membuka Pintu Rezeki


Istighfar Membuka Pintu Rezeki - "Tak ada gading yang tak retak" barangkali adalah pepatah yang sudah sangat umum didengar. Artinya "Tidak ada manusia yang tak bersalah". Itu benar, bahwa manusia memang tidak dapat luput dari kesalahan dan dosa. Oleh sebab itu, Nabi Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada umatnya untuk selalu memohon ampun dengan beristighfar dan bertaubat kepada Allah.

Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

وَاللَّهِ إِنِّى لَأَسۡتَغۡفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيۡهِ فِى الۡيَوۡمِ أَكۡثَرَ مِنۡ سَبۡعِينَ مَرَّةً .
"Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari 70 kali." (HR. Al-Bukhari No. 6307).

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam adalah seorang Nabi dan Rasul yang memiliki sifat ma'sum, namun beliau masih selalu beristighfar memohon ampun kepada Allah setidaknya 70 kali dalam sehari. Ini juga menjadi pengajaran untuk umat Islam untuk selalu memperbanyak istighfar. Bahkan dalam kesempatan lain, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bahkan beristighfar sebanyak seratus kali.

عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِنِّي لَأَسۡتَغۡفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيۡهِ فِي الۡيَوۡمِ مِائَةَ مَرَّةٍ .
Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya saya memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak seratus kali." (H.R. Ibnu Majah No. 3805).

Diungkapkan pula oleh oleh salah seorang sahabat Nabi bernama Al-Aghar Al-Muzanni, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلۡبِى وَإِنِّى لَأَسۡتَغۡفِرُ اللَّهَ فِى الۡيَوۡمِ مِائَةَ مَرَّةٍ .
"Ketika hatiku malas, aku beristighfar pada Allah dalam sehari sebanyak seratus kali." (HR. Muslim No. 2702).

Al-Qadhi 'Iyadh mengatakan bahwa makna hadits di atas, yaitu ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam keadaan malas, beliau membacanya seperti itu. Artinya, beliau rutin terus mengamalkan dzikir istighfar setiap harinya. (Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, 17: 22).

Jumlah bilangan istighfar dalam dua hadits tersebut tidak menjadi batasan jumlah. Namun yang dimaksud adalah banyaknya istighfar yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Jika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang ma'sum saja masih beristighfar hingga seratus kali dalam sehari, maka kita seharusnya beristighfar lebih banyak dari itu. Namun demikian janganlah menetapkan jumlah tertentu dalam beristighfar kecuali ada dalil yang memerintahkannya.

Dari Abdullah bin Busr, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

طُوبَى لِمَنۡ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسۡتِغۡفَارًا كَثِيرًا .
"Beruntunglah bagi orang yang mendapatkan di dalam catatan amalnya istighfar yang banyak." (HR. Ibnu Majah No. 3818).

Hadits tersebut bermakna bahwa bacaan istighfar tidak memiliki batasan jumlah. Semakin banyak, maka semakin bagus.

MANFAAT ISTIGHFAR

1. Mendapat ampunan
Ini sudah menjadi tujuan dasar dari istighfar, karena arti "istighfar" adalah meminta ampunan. Setiap orang yang beristighfar sudah pasti mengharapkan ampunan dari Allah. Maka hendaknya istighfar dilakukan dengan tulus, memahami maknanya, menyesali segala perbuatan dosa yang telah dilakukan dan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

2. Melancarkan rezeki (hujan, harta, keturunan, kebun dan sungai)
Sudah umum diketahui bahwa dosa-dosa yang pernah kita lakukan akan menghalangi terkabulnya doa dan menghambat aliran rezeki. Maka solusi pertama yang harus dilakukan adalah dengan memperbanyak istighfar dan memohon ampunan kepada Allah,

Dari Tsauban, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ الۡعَبۡدَ لَيُحۡرَمُ الرِّزۡقَ بِالذَّنۡبِ يُصِيبُهُ .
"Sesungguhnya seorang hamba benar-benar akan terhalang dari rezekinya disebabkan dosa yang ia kerjakan." (H.R. Ahmad No. 21402 dan Ibnu Majah No. 4022).

Allah juga berfirman:

فَقُلۡتُ اسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارٗا . يُرۡسِلِ السَّمَآءَ عَلَيۡكُم مِّدۡرَارٗا . وَيُمۡدِدۡكُم بِأَمۡوٰلٖ وَبَنِينَ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ جَنّٰتٖ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ أَنۡهٰرٗا .
"Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun (istighfar) kepada Rabb-mu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Allah akan mengirimkan kepadamu hujan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai." (QS. Nuh [71]: 10-12).

Ayat tersebut menjelaskan secara gamblang bahwa di antara manfaat dari istighfar adalah membuka pintu rezeki: turunnya hujan, melancarkan rezeki, mendatangkan banyak keturunan (anak), menyuburkan kebun, serta mengalirnya sungai.

Ada sebuah kisah yang cukup populer dan tercantum dalam kitab Tafsir Al-Qurthubi mengenai Imam Hasan Al-Basri yang didatangi oleh tiga orang.
Orang pertama mengadukan masalah paceklik dan kekeringan yang tak kunjung usai. Hasan Al-Basri menjawab: "Beristighfarlah kepada Allah."
Setelah orang tadi pergi, datang pula orang kedua yang mengeluhkan tentang keadaan dirinya yang miskin. Hasan Al-Basri pun menjawab: "Beristighfarlah kepada Allah."
Setelah itu datang pula orang ketiga yang meminta untuk didoakan agar segera memiliki keturunan. Jawaban Hasan Al-Basri tetap sama: "Beristighfarlah kepada Allah."

Ar-Rabi' bin Shabih yang hadir di situ bertanya, "Mengapa engkau menyuruh mereka semua untuk beristighfar sedangkan masalah mereka berbeda-beda?"

Maka Hasan Al-Basri pun menjawab, "Aku tidak mengatakan demikian atas dasar pendapatku sendiri. Namun sungguh Allah telah berfirman: "Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun (istighfar) kepada Rabb-mu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Allah akan mengirimkan kepadamu hujan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai." (QS. Nuh [71]: 10-12).

Kisah serupa juga disebutkan oleh Ibnu Hajar Al-Atsqalani dalam kitabnya Fathul Bari sebagai berikut:

أَنَّ رَجُلًا شَكَى إِلَيۡهِ الۡجَدۡب فَقَالَ اِسۡتَغۡفِرۡ اللَّه ، وَشَكَى إِلَيۡهِ آخَر الۡفَقۡر فَقَالَ اِسۡتَغۡفِرۡ اللَّه ، وَشَكَى إِلَيۡهِ آخَر جَفَاف بُسۡتَانه فَقَالَ اِسۡتَغۡفِرۡ اللَّه ، وَشَكَى إِلَيۡهِ آخَر عَدَم الۡوَلَد فَقَالَ اِسۡتَغۡفِرۡ اللَّه ، ثُمَّ تَلَا عَلَيۡهِمۡ هَذِهِ الۡآيَة .
"Sesungguhnya seseorang pernah mengadukan kepada Al-Hasan tentang musim paceklik yang terjadi. Lalu Al-Hasan berkata, "Beristigfarlah kepada Allah".
Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kemiskinannya. Lalu Al-Hasan berkata, "Beristigfarlah kepada Allah".
Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kekeringan pada lahan (kebunnya). Lalu Al-Hasan berkata, "Beristigfarlah kepada Allah".
Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau karena belum memiliki anak. Lalu Al-Hasan berkata, "Beristigfarlah kepada Allah".

Kemudian setelah itu Al-Hasan Al-Bashri membacakan surat Nuh di atas. (Riwayat ini disebutkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Atsqalani dalam Fathul Bari, 11/98).

Ketika menjelaskan surat Nuh di atas, Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, "Jika kalian meminta ampun (beristighfar) kepada Allah dan menaati-Nya, niscaya kalian akan mendapatkan banyak rezeki, akan diberi keberkahan hujan dari langit, juga kalian akan diberi keberkahan dari tanah dengan ditumbuhkannya berbagai tanaman, dilimpahkannya air susu, dilapangkannya harta, serta dikaruniakan anak dan keturunan. Di samping itu, Allah juga akan memberikan pada kalian kebun-kebun dengan berbagai buah yang di tengah-tengahnya akan dialirkan sungai-sungai." (Tafsir Al Qur'an Al 'Azhim, 7: 388).

RAGAM BACAAN ISTIGHFAR

Ada beberapa lafaz istighfar sebagaimana yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, di antaranya sebagai berikut:

Pertama
Bacaan yang paling sederhana adalah lafaz:

اَسۡتَغۡفِرُ اللهَ
"Aku memohon ampun kepada Allah." (H.R. Muslim No. 591).

Berikut hadits lengkapnya:

عَنۡ ثَوۡبَانَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا انۡصَرَفَ مِنۡ صَلَاتِهِ اسۡتَغۡفَرَ ثَلَاثًا وَقَالَ اللَّهُمَّ أَنۡتَ السَّلَامُ وَمِنۡكَ السَّلَامُ تَبَارَكۡتَ ذَا الۡجَلَالِ وَالۡإِكۡرَامِ قَالَ الۡوَلِيدُ فَقُلۡتُ لِلۡأَوۡزَاعِيِّ كَيۡفَ الۡاسۡتِغۡفَارُ قَالَ تَقُولُ أَسۡتَغۡفِرُ اللَّهَ أَسۡتَغۡفِرُ اللَّهَ .
Dari Tsauban dia berkata; "Jika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selesai shalat, beliau akan beristighfar tiga kali dan membaca: ALLAAHUMMA ANTAS SALAAM WAMINKAS SALAAM TABAARAKTA DZAL JALAALI WAL IKRAM (Ya Allah, Engkau adalah Dzat yang memberi keselamatan, dan dari Engkaulah segala keselamatan, Maha Besar Engkau wahai Dzat Pemilik kebesaran dan kemuliaan." Walid berkata; maka kukatakan kepada Auza'i "Lalu bagaimana bacaan istighfarnya?" Auza'i menjawab; "Ucapkanlah Astaghfirullah, Astaghfirullah." (H.R. Muslim No. 591).

Kedua
Lafaznya sedikit lebih panjang, yaitu sebagai berikut:

أَسۡتَغۡفِرُ اللَّهَ الۡعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الۡحَيَّ الۡقَيُّومَ وَأَتُوبُ
"Aku memohon ampun kepada Allah, Zat yang tiada Ilah selain Dia yang hidup kekal dan terus menerus mengurus makhluk-Nya, dan aku bertaubat kepada-Nya." (H.R. At-Tirmidzi no 3501).

Berikut redaksi lengkapnya:

مَنۡ قَالَ أَسۡتَغۡفِرُ اللَّهَ الۡعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الۡحَيَّ الۡقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيۡهِ غُفِرَ لَهُ وَإِنۡ كَانَ فَرَّ مِنَ الزَّحۡفِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعۡرِفُهُ إِلَّا مِنۡ هَذَا الۡوَجۡهِ
"Barangsiapa mengucapkan; ASTAGHFIRULLAHAL 'ADZIM ALLADZII LAA ILAAHA ILLA HUWAL HAYYUL QAYYUM WA ATUUBU ILAIH (Aku memohon ampun kepada Allah, Zat yang tiada Ilah selain Dia yang hidup kekal dan terus menerus mengurus makhluk-Nya, dan aku bertaubat kepada-Nya.) Maka (dosa-dosanya) akan di ampuni sekalipun ia telah lari dari peperangan."
Abu Isa mengatakan: "Derajat hadits ini gharib (aneh) dan kami tidak mengetahuinya melainkan dari jalur ini." (H.R. At-Tirmidzi No. 3501). Namun hadits ini dinilai shahih oleh Al-Albani.

Ketiga
Dari Ibnu Umar, beliau mengatakan bahwa jika kami menghitung dzikir Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam satu majelis, beliau mengucapkan,

رَبِّ اغۡفِرۡ لِي وَتُبۡ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنۡتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ .
"Ya Allah ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang" sebanyak 100 kali. (HR. Abu Daud. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah No. 556).

Keempat
Lafaz berikut juga dikenal sebagai sayyidul istighfar (penghulu istighfar) yang merupakan bacaan istighfar terbaik. Lafaznya adalah:

اَللَّهُمَّ أَنۡتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنۡتَ خَلَقۡتَنِي وَأَنَا عَبۡدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهۡدِكَ وَوَعۡدِكَ مَا اسۡتَطَعۡتُ أَعُوذُ بِكَ مِنۡ شَرِّ مَا صَنَعۡتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعۡمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنۡبِي فَاغۡفِرۡ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغۡفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنۡتَ .
"Ya Allah, Engkau adalah Rabb-ku, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui dosaku kepada-Mu dan aku akui nikmat-Mu kepadaku, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau." (H.R. Al-Bukhari No. 6306).

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

وَمَنۡ قَالَهَا مِنۡ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا فَمَاتَ مِنۡ يَوۡمِهِ قَبۡلَ أَنۡ يُمۡسِيَ فَهُوَ مِنۡ أَهۡلِ الۡجَنَّةِ وَمَنۡ قَالَهَا مِنۡ اللَّيۡلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبۡلَ أَنۡ يُصۡبِحَ فَهُوَ مِنۡ أَهۡلِ الۡجَنَّةِ
"Jika ia membacanya di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore, maka ia termasuk penghuni surga. Dan jika ia membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk penghuni surga." (H.R. Al-Bukhari No. 6306).

Oleh sebab itu, marilah perbanyak istighfar, tidak perlu menghitungnya, cukup kerjakan dan tunggulah buahnya. Jika buahnya tak kunjung terlihat, teruslah beristighfar dan jangan berputus asa. Isilah waktu-waktu kosong dengan beristighfar, di rumah, di kantor, di toko, di pasar dan bacalah di dalam setiap aktivitas yang kita kerjakan.

Allahu A'lam...

* * *

0 Comments