Munafik (Part 2 Final): Sikap Rasul Menghadapi Orang Munafik


Tokoh munafik yang terkenal di masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah Abdullah bin Ubay bin Salul. Ia adalah seorang pemimpin di Madinah, berasal dari kabilah Khazraj. Dia adalah pemimpin dua kabilah di masa Jahiliah dan penduduk Madinah bertekad akan menjadikannya sebagai raja mereka.

Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tiba di Madinah, maka masuk Islamlah orang-orang tertentu dari kaum Anshar, yaitu dari kabilah Aus dan Khazraj, namun sedikit dari kaum Yahudi yang masuk Islam. Kaum Yahudi yang masuk Islam pada periode awal Madinah adalah Abdullah bin Salam. Ketika banyak penduduk Madinah yang masuk Islam, menyibukkan dirinya dengan urusan Islam, Abdullah bin Ubay tetap pada pendiriannya seraya memperhatikan perkembangan Islam dan para pemeluknya.

Akan tetapi, ketika terjadi Perang Badar dan kaum muslimin meraih kemenangan, dia berkata, "Ini merupakan suatu perkara yang benar-benar telah mengarah (kepada kekuasaan)." Akhirnya dia menampakkan lahiriahnya untuk masuk Islam, dan sikapnya ini diikuti oleh orang-orang yang mendukungnya, juga dari kalangan ahli kitab.

Karena harapan Abdullah bin Ubay untuk jadi raja telah pupus, timbullah rasa dendam di dalam hatinya terhadap Islam dan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Sejak waktu itulah muncul barisan Abdullah bin Ubay dan para pengikutnya sebagai kelompok munafik di Madinah.

Sejak itulah muncul nifaq (kemunafikan) di kalangan sebagian penduduk Madinah dan orang-orang Badui yang berada di sekitar kota Madinah. Adapun kaum Muhajirin, tidak ada seorang munafik pun di kalangan mereka karena tiada seorang pun yang berhijrah karena dipaksa. (Tafsir Ibnu Katsir).

Abdullah bin Ubay memusuhi Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dengan cara-cara halus dan konspiratif. Ia kerap kali menghasut, memfitnah, dan mengadu domba antara satu sahabat dengan yang lainnya, bahkan dengan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sendiri.

Di antara bukti kemunafikan Abdullah bin Ubay adalah melakukan propaganda dan mengajak mundur 300 pasukan Islam saat Perang Uhud, menyebarkan fitnah keji bahwa 'Aisyah radhiallahu 'anha telah selingkuh dengan Shafwan, berkonspirasi untuk membunuh Nabi dalam Perang Dzatu Riqa, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Setelah berulang kali Abdullah bin Ubay menyakiti Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah memendam kebencian dan kedengkian terhadap Abdullah bin Ubay.

Berikut adalah kisah yang diriwayatkan oleh Usamah bin Zaid tentang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang meminta pendapat kepada Sa'ad bin 'Ubadah berkenaan dengan Abdullah bin Ubay, Sa'ad menjawab:

اعۡفُ عَنۡهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَاصۡفَحۡ فَوَاللَّهِ لَقَدۡ أَعۡطَاكَ اللَّهُ الَّذِي أَعۡطَاكَ وَلَقَدۡ اصۡطَلَحَ أَهۡلُ هَذِهِ الۡبَحۡرَةِ عَلَى أَنۡ يُتَوِّجُوهُ فَيُعَصِّبُونَهُ بِالۡعِصَابَةِ فَلَمَّا رَدَّ اللَّهُ ذَلِكَ بِالۡحَقِّ الَّذِي أَعۡطَاكَ شَرِقَ بِذَلِكَ فَذَلِكَ فَعَلَ بِهِ مَا رَأَيۡتَ فَعَفَا عَنۡهُ النَّبِيُّ . – رواه البخاري ومسلم

"Maafkan dia wahai Rasulullah dan berlapang dadalah kepadanya. Demi Allah, Allah telah memberi Anda apa yang telah diberikan kepada Anda. Sesungguhnya dahulu penduduk telaga ini (penduduk Madinah) telah bersepakat untuk memilihnya dan mengangkatnya, namun setelah muncul kebenaran yang diberikan kepada Anda (Islam), sehingga menghalanginya menjabat sebagai pemimpin, maka seperti itulah perbuatannya sebagaimana yang Anda lihat." Akhirnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memaafkannya." (H.R. Al-Bukhari No. 6254 dan Muslim No. 1798).

Dikisahkan pula oleh Jabir radhiallahu 'anhu, bahwa suatu ketika di medan perang, di antara kaum muhajirin terjadi kericuhan antara suku Aus dan Khazraj hingga mereka saling menyeru dengan seruan Jahiliyah. Setelah kericuhan itu diredam oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, Abdullah bin Ubay berkata:

أَقَدۡ تَدَاعَوۡا عَلَيۡنَا لَئِنۡ رَجَعۡنَا إِلَى الۡمَدِينَةِ لَيُخۡرِجَنَّ الۡأَعَزُّ مِنۡهَا الۡأَذَلَّ .
"Apakah mereka (Kaum Muhajirin) tengah mengumpulkan kekuatan untuk melawan kami? Seandainya kita kembali ke Madinah maka orang yang kuat pasti akan mengusir orang yang hina (orang mukmin) dari Madinah." (Perkataannya ini diabadikan dalam QS. Al-Munafiqun [63]: 8)

Mendengar ucapan Abdullah bin Ubay, spontan Umar bin Khatthab radhiallahu 'anhu berkata:

أَلَا نَقۡتُلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا الۡخَبِيثَ ؟
"Apakah tidak sebaiknya kita bunuh saja orang tercela ini ya Rasulullah?"

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab:

لَا يَتَحَدَّثُ النَّاسُ أَنَّهُ كَانَ يَقۡتُلُ أَصۡحَابَهُ .
"Tidak, supaya orang-orang tidak berkata bahwa Muhammad membunuh sahabatnya." (Shahih Al-Bukhari No. 3518).

Anak Abdullah bin Ubay yang bernama Abdullah, pernah menghadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, ia bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya telah sampai berita kepadaku yang mengatakan bahwa engkau hendak membunuh ayahku. Maka demi Allah yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku belum pernah menatap wajah ayahku karena berbakti kepadanya. Tetapi sesungguhnya jika engkau menghendaki agar aku membawakan kepalanya ke hadapanmu, aku sanggup. Karena sesungguhnya aku tidak suka jika melihat orang lain yang membunuh ayahku." (Tafsir Ibnu Katsir).

Pada tahun ke-9 Hijrah, setelah terjadi Perang Tabuk, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menerima kabar bahwa Abdullah bin Ubay tengah sakit, tepatnya di akhir bulan Syawal. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun menyempatkan diri untuk menjenguknya bersama Usamah bin Zaid.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tetap tidak kehilangan sisi kemanusiaan yang bermartabat, meskipun terhadap orang yang telah nyata berulang kali membuat masalah dan fitnah di kalangan umat Islam. Hal ini dikarenakan Abdullah bin Ubay secara zahir adalah seorang muslim yang memiliki hak untuk dijenguk ketika sakit.

Pada bulan berikutnya, bulan Dzulqa'dah Abdullah bin Ubay bin Salul wafat. Anak Abdullah bin Ubay yang bernama Abdullah adalah sosok anak yang berbakti kepada orang tuanya, bahkan sebelum Islam datang ke Madinah. Ia pun tetap bersedih ketika ayahnya meninggal. Sebagai bakti terakhirnya, ia pun menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk meminta sehelai kain sebagai kafan dan meminta agar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mau menyalatkan jenazah ayahnya.

Hal ini diceritakan oleh Ibnu 'Umar radhiallahu 'anhuma sebagai berikut:

لَمَّا تُوُفِّيَ عَبۡدُ اللَّهِ بۡنُ أُبَيٍّ جَاءَ ابۡنُهُ عَبۡدُ اللَّهِ بۡنُ عَبۡدِ اللَّهِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ فَسَأَلَهُ أَنۡ يُعۡطِيَهُ قَمِيصَهُ يُكَفِّنُ فِيهِ أَبَاهُ فَأَعۡطَاهُ ثُمَّ سَأَلَهُ أَنۡ يُصَلِّيَ عَلَيۡهِ فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ لِيُصَلِّيَ عَلَيۡهِ فَقَامَ عُمَرُ فَأَخَذَ بِثَوۡبِ رَسُولِ اللَّهِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ تُصَلِّي عَلَيۡهِ وَقَدۡ نَهَاكَ رَبُّكَ أَنۡ تُصَلِّيَ عَلَيۡهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ إِنَّمَا خَيَّرَنِي اللَّهُ فَقَالَ « اسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ أَوۡ لَا تَسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ إِنۡ تَسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ سَبۡعِينَ مَرَّةً » وَسَأَزِيدُهُ عَلَى السَّبۡعِينَ قَالَ إِنَّهُ مُنَافِقٌ قَالَ فَصَلَّى عَلَيۡهِ رَسُولُ اللَّهِ فَأَنۡزَلَ اللَّهُ « وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنۡهُمۡ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمۡ عَلَى قَبۡرِهِ » . – رواه البخاري

"Ketika Abdullah bin Ubay meninggal dunia, anak laki-lakinya -yaitu Abdullah bin Abdullah- datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya memohon kepada beliau agar sudi memberikan baju beliau kepada Abdullah untuk kain kafan ayahnya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan bajunya kepada Abdullah. Setelah itu, Abdullah juga memohon Rasulullah agar beliau berkenan menshalati jenazah ayahnya.

Kemudian Rasulullah pun bersiap-siap untuk menshalati jenazah Abdullah bin Ubay, namun Umar bin Khatthab berdiri dan menarik baju Rasulullah seraya berkata, "Ya Rasulullah, apakah engkau akan menshalati jenazah Abdullah bin Ubay sedangkan Allah telah melarangnya?"

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Sesungguhnya Allah telah memberikan pilihan kepadaku." Lalu beliau membacakan ayat yang berbunyi; "Kamu memohonkan ampun bagi orang-orang munafik atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka, maka hal itu sama saja, sekalipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali" (QS. At-Taubah [9]: 80). Oleh karena itu, aku akan meminta ampun untuknya lebih dari tujuh puluh kali."

Umar bin Khatthab berkata, "Ya Rasulullah, sesungguhnya dia orang munafik."

Tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetap menshalatinya, maka setelah itu Allah menurunkan ayat: "Janganlah kamu sekali-kali menshalati jenazah seorang di antara orang-orang munafik dan janganlah kamu berdiri di atas kuburnya." (QS. At-Taubah [9]: 84). (H.R. Al-Bukhari No. 4670).

Abdullah bin Ubay bin Salul wafat dengan statusnya sebagai orang munafik tanpa sempat bertaubat kepada Allah. Hal ini pula yang membuat anaknya merasa sedih. Apabila Abdullah bin Ubay mau bertaubat, niscaya Allah akan berkenan mengampuninya, sebagaimana firman Allah:

إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ فِي ٱلدَّرۡكِ ٱلۡأَسۡفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمۡ نَصِيرًا ١٤٥ إِلَّا ٱلَّذِينَ تَابُواْ وَأَصۡلَحُواْ وَٱعۡتَصَمُواْ بِٱللَّهِ وَأَخۡلَصُواْ دِينَهُمۡ لِلَّهِ فَأُوْلٰٓئِكَ مَعَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۖ وَسَوۡفَ يُؤۡتِ ٱللَّهُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَجۡرًا عَظِيمٗا ١٤٦

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka. Kecuali orang-orang yang bertaubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar." (QS. An-Nisa’ [4]: 145-146).

Sikap Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika tetap menshalatkan jenazah Abdullah bin Ubay adalah bentuk perlakuan secara zahir, yaitu mengakui bahwa Abdullah bin Ubay adalah seorang Muslim. Karena Islam mengajarkan untuk memperlakukan manusia sesuai dengan kondisi zahirnya, sedangkan keadaan hati dan batinnya adalah urusan dan kewenangan Allah.

Dapat pula dimaknai bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menshalatkan jenazah Abdullah bin Ubay adalah untuk menghormati anaknya, Abdullah bin Abdullah bin Ubay yang merupakan sahabat yang mulia. Sedangkan ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberikan kain sebagai kafan, bisa dipahami bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah menolak permintaan siapa pun selama beliau memilikinya.

Dari sisi Abdullah bin Abdullah bin Ubay, ia sadar bahwa berbakti kepada orang tua itu tetap harus dilakukan meskipun ia tahu bahwa ayahnya adalah sosok yang bergelimang dosa dan maksiat, selama orang tuanya tidak pernah menyuruh berbuat maksiat atau melarang beramal shaleh.

Demikianlah sikap Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam terhadap sosok munafik yang bernama Abdullah bin Ubay bin Salul. Setelah begitu banyak masalah yang ditimbulkan olehnya, menghasut, memfitnah, memprovokasi, mengadu domba dan memecah belah kaum muslimin, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tetap memaafkan, berlapang dada, bersikap ramah, menjenguk ketika ia sakit, memberi kain kafan serta menshalatkan jenazahnya.

Dari sikap Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dapat diambil pelajaran bahwa orang yang baik akan selalu berbuat baik, meskipun kepada orang yang tidak baik. Sedangkan orang yang tidak baik akan terus berbuat tidak baik meskipun kepada orang yang baik.

Wallahu A'lam...

0 Comments