Prinsip Kemudahan dalam Islam

Prinsip Kemudahan dalam Islam


Din Islam adalah anugerah besar dari Allah untuk umat manusia di bumi. Kehadiran Islam di tengah umat manusia ditujukan untuk membawa rahmat, aturan hidup, keselamatan, kemaslahatan dan tentu saja membawa banyak kemudahan di dalamnya. Hal ini telah disebutkan baik oleh Allah dalam al-Quran maupun oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

... يُرِيۡدُ اللّٰهُ بِكُمُ الۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيۡدُ بِكُمُ الۡعُسۡرَ ...

"... Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu..." (QS. Al-Baqarah [2]: 185).

Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الدِّينَ يُسۡرٌ وَلَنۡ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ فَسَدِّدُوۡا وَقَارِبُوۡا وَأَبۡشِرُوۡا وَاسۡتَعِينُوۡا بِالۡغَدۡوَةِ وَالرَّوۡحَةِ وَشَيۡءٍ مِنَ الدُّلۡجَةِ . – رواه البخاري والنسائي
"Sesungguhnya agama itu mudah, dan tidaklah seseorang bersikap keras (mempersulit) dalam agama kecuali ia akan dikalahkan (semakin kesulitan). Maka berlaku luruslah, mendekatlah (kepada kebenaran), berilah kabar gembira dan minta tolonglah (kepada Allah) di waktu awal pagi, awal sore dan sesuatu di awal malam." (Shahih Al-Bukhari: 39 dan An-Nasa`i: 5034).

Kemudahan yang dimaksud mencakup dalam urusan akidah maupun amalan, ushul (pokok) maupun furu' (cabang). Bahkan ada beberapa sisi dalam akidah Islam yang sangat mudah dicerna oleh akal sehat manusia (logika), misalnya dalam hal keesaan Allah.

Contoh kecil adalah ketika ada orang non-muslim yang ingin masuk Islam, maka syariat Islam hanya menetapkan satu syarat, yaitu cukup dengan mengucapkan syahadatain. Jika sudah, maka seketika itu pula ia sudah Islam, tanpa harus ada syarat lainnya.

Demikian pula dalam amalan, syariat Islam ini mudah diamalkan, bahkan kewajiban syariat dapat gugur ketika tidak ada kemampuan melaksanakannya. Termasuk pula dalam mengamalkan sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, semuanya mudah dan dimudahkan oleh Allah 'Azza wa Jalla. Hal ini karena salah satu prinsip dalam Islam adalah 'adamul haraj (menghilangkan kesulitan). Oleh sebab itu Islam memberikan banyak keringanan (rukhshah) dalam menjalankan hukum-hukum dengan beberapa cara, misalnya:
  1. Pengguguran kewajiban dalam keadaan tertentu. Contoh: ibadah haji tidak wajib jika belum mampu mengerjakannya atau jika keadaan tidak aman.
  2. Pengurangan kadar dari yang telah ditentukan. Contoh: meng-qashar shalat.
  3. Penggantian kewajiban yang satu dengan yang lainnya. Contoh: mengganti wudhu' dengan tayammum jika tidak ada air.
  4. Mendahulukan; mengerjakan sesuatu sebelum waktunya. Contoh: jama' taqdim, mengerjakan shalat Zuhur dan 'Ashar di waktu Zuhur ketika dibutuhkan.
  5. Menangguhkan; mengerjakan sesuatu setelah lewat waktu asalnya. Contoh: jama' ta`khir, mengerjakan shalat Zuhur dan 'Ashar di waktu 'Ashar ketika dibutuhkan.
  6. Penyesuaian ibadah sesuai dengan situasi yang dihadapi. Contoh shalat khauf (dalam perang) dibolehkan shalat sambil berjalan atau menunggang kendaraan tanpa harus menghadap kiblat (QS. Al-Baqarah [2]: 239). Atau shalat dalam posisi duduk atau berbaring bagi orang yang sakit.

Larangan Sikap Ghuluw

Ghuluw artinya berlebih-lebihan atau melampaui batas dalam agama. Larangan ghuluw bahkan ada di dalam firman Allah dan hadits berikut:

يٰٓأَهۡلَ الۡكِتٰبِ لَا تَغۡلُواْ فِي دِينِكُمۡ ...  ١٧١

"Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu..." (QS. An-Nisa' [4]: 171).

Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمۡ وَالۡغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّهُ أَهۡلَكَ مَنۡ كَانَ قَبۡلَكُمۡ الۡغُلُوُّ فِي الدِّينِ .

"Wahai manusia jauhkanlah kalian berlebih-lebihan dalam agama. Karena orang-orang sebelum kalian telah binasa sebab mereka berlebih-lebihan dalam agama." (H.R. Ibnu Majah: 3029). Sanad hadits ini shahih menurut syarat Muslim. Imam An-Nawawi dan Ibnu Taimiyyah juga mengatakan bahwa hadits ini shahih.

Contoh perbuatan ghuluw adalah mewajibkan amalan sunnah atau mengharamkan hal-hal yang dihalalkan, dan sebagainya. Itu semua adalah contoh perbuatan yang melewati batasan yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Maka pada akhirnya mereka yang bersikap berlebihan ini akan merasa berat dalam Islam.

Namun apabila ada seseorang berusaha untuk mengejar kesempurnaan dalam beramal, maka ini tidak termasuk ghuluw, karena ia hanya ingin melaksanakan amal tersebut secara ideal. Namun jika ia memang sebenarnya tidak mampu bahkan merasa kepayahan sedangkan ia tidak mengambil rukhshah, maka bisa jadi itu termasuk perbuatan ghuluw, Allahu A'lam.

Maka siapa saja yang berlebih-lebihan dalam urusan Islam, maka kelak ia akan kalah, artinya ia akan merasa semakin sulit dan keberatan hingga akhirnya ia akan menyerah dan meninggalkannya.

"Maka berlaku luruslah", artinya tetaplah melaksanakan Islam sesuai dengan koridor ketentuan yang berlaku, tanpa menambah atau menguranginya. Karena seseorang akan merasa berat dan sulit dalam Islam ketika ia menambah-tambah ajaran Islam sehingga tidak lagi lurus.

فَاسۡتَقِمۡ كَمَآ أُمِرۡتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطۡغَوۡاْۚ إِنَّهُۥ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ ١١٢

"Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS. Huud [11]: 112).

Ayat ini memerintahkan supaya umat Islam tetap berada di jalan Islam dengan benar yang sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tidak melampaui batas atau menambah-nambahnya.

Sedangkan sabda Nabi: "mendekatlah", artinya adalah apabila tidak mampu melaksanakan syariat Islam seluruhnya 100%, maka berusahalah untuk mengerjakan sebagian besarnya.

Sabda Nabi: "berilah kabar gembira" bermakna memberikan kabar gembira berupa pahala yang telah Allah janjikan. Dengan mengingat pahala yang Allah janjikan, maka seseorang akan berbahagia, semakin semangat dan merasa ringan serta mudah dalam beramal shalih.

Berikut ini adalah dalil-dalil lain dari al-Quran dan hadits-hadits shahih yang juga menyebutkan bahwa Islam itu dibangun atas dasar prinsip kemudahan.

مَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ الۡقُرۡءَانَ لِتَشۡقَىٰٓ ٢

"Kami tidak menurunkan al-Quran kepadamu agar kamu menjadi susah." (QS. Thaha [20]: 2).

... مَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيَجۡعَلَ عَلَيۡكُم مِّنۡ حَرَجٖ وَلٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمۡ وَلِيُتِمَّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ٦

"... Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur." (QS. Al-Maidah [5]: 6).

وَجٰهِدُوۡا فِي اللّٰهِ حَقَّ جِهَادِهِۦۚ هُوَ اجۡتَبٰىكُمۡ وَمَا جَعَلَ عَلَيۡكُمۡ فِي الدِّينِ مِنۡ حَرَجٖۚ ... ٧٨

"Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan..." (QS. Al-Hajj [22]: 78).

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Allah tidak akan membebankan sesuatu yang tidak mampu dikerjakan. Allah juga tidak memerintahkan sesuatu yang sangat berat, melainkan Allah akan menyediakan jalan keluarnya.

لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۚ ... ٢٨٦

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya..." (QS. Al-Baqarah [2]: 286).

فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسۡتَطَعۡتُمۡ وَاسۡمَعُوۡا وَأَطِيۡعُوۡا وَأَنۡفِقُوۡا خَيۡرٗا لِّأَنۡفُسِكُمۡۗ ... ١٦

"Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu..." (QS. At-Taghabun [64]: 16).

'Aisyah radhiallahu 'anha berkata,

ما خُيِّرَ رَسُولُ اللهِ ﷺ بَيۡنَ أَمۡرَيۡنِ إِلَّا أَخَذَ أَيۡسَرَهُمَا مَا لَـمۡ يَكُنۡ إِثۡـمًا فَإِنۡ كَانَ إِثۡـمًا كَانَ أَبۡعَدَ النَّاسِ مِنۡهُ . – رواه البخاري ومسلم
"Tidaklah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam jika diberi pilihan antara dua perkara, kecuali beliau memilih yang paling mudah dari keduanya selama tidak mengandung keburukan (dosa). Jika terdapat dosa, maka beliau adalah manusia yang paling jauh darinya.” (Shahih Al-Bukhari: 3560, Muslim: 2327. Diriwayatkan pula dengan lafaz yang berbeda dalam Sunan Abu Daud: 4785 dan Musnad Imam Ahmad: 23702 dan 23410).

Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

دَعُونِي مَا تَرَكۡتُكُمۡ إِنَّـمَا هَلَكَ مَنۡ كَانَ قَبلَكُمۡ بِسُؤَالِـهِمۡ وَاخۡتِلَافِهِمۡ عَلَى أَنۡبِيَائِهِمۡ فَإِذَا نَـهَيۡتُكُمۡ عَنۡ شَيۡءٍ فَاجۡتَنِبُوهُ وَإِذَا أَمَرۡتُكُمۡ بِأَمۡرٍ فَأۡتُوا مِنۡهُ مَا اسۡتَطَعۡتُمۡ . – رواه البخاري

"Biarkanlah apa yang aku tinggalkan untuk kalian, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena mereka suka bertanya dan menyelisihi nabi mereka. Jika aku melarang kalian dari sesuatu maka jauhilah, dan jika aku perintahkan kalian dengan sesuatu, maka kerjakanlah semampu kalian." (Shahih Al-Bukhari: 7288).

Dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

يَسِّرُوۡا وَلَا تُعَسِّرُوۡا وَبَشِّرُوۡا وَلَا تُنَفِّرُوۡا . وفي رواية المسلم: وَسَكِّنُوۡا وَلَا تُنَفِّرُوۡا . – رواه البخاري ومسلم

"Permudahlah dan jangan mempersulit, berikanlah kabar gembira dan jangan membuat orang lari." Dalam riwayat Muslim: "Berilah ketenangan, jangan membuat mereka lari." (Shahih Al-Bukhari: 69, 6125 dan Shahih Muslim: 1734).

Dalam kitab Syarh Riyadhus Shalihin disebutkan sebagai berikut:

فأنت تجد المؤمن الذي شرح الله صدره للإسلام يصلي براحة ، وطمأنينة ، وانشراح صدر، ومحبة للصلاة ، ويزكي كذلك ، ويصوم كذلك ، ويحج كذلك ، ويفعل الخير كذلك ، فهو يسير عليه ، سهل قريب منه .

"Kamu akan menemukan orang mukmin yang dadanya dilapangkan Allah untuk menampung (nilai-nilai) Islam. Ia shalat dengan nyaman, tenang, lapang dada, dan penuh kecintaan kepada shalat. Demikian pula dalam berzakat, berpuasa, menunaikan ibadah haji,  dan beramal kebajikan lainnya. Dan semua itu dilakukannya dengan mudah, bahkan sangat mudah." (Syarh Riyadhus Shalihin, Juz 2, hal. 100).

Penyalahgunaan Prinsip Kemudahan
Pada dasarnya prinsip kemudahan ini adalah sebuah kebenaran dari Allah dan Rasul-Nya. Namun ada segolongan orang yang justru menyalahgunakan kaidah ini untuk membenarkan perbuatannya yang menyelisihi syariat Islam.

Ketika kekeliruannya mendapat nasihat dari orang lain, ia akan menjawab, "Islam adalah agama yang mudah." Mereka ber-hujjah dengan kalimat ini atas dasar hawa nafsu dan terkadang mereka juga mengambil keringanan tidak pada tempatnya.

Islam memang agama yang mudah, akan tetapi dalam mengambil kemudahan itu tetap tidak boleh seenaknya, melainkan harus sesuai dengan kaidah batasan dari Allah serta contoh dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Kesimpulan
  1. Ajaran Islam dibangun atas dasar prinsip kemudahan, baik dalam urusan akidah maupun amalan.
  2. Dilarang bersikap ghuluw, yaitu berlebih-lebihan dalam menjalankan syariat Islam, karena syariat Islam sudah ideal dan sempurna
  3. Dalam mengerjakan syariat Islam, terkadang harus melihat kemampuan yang dimiliki. Jika tidak mampu mengerjakan seluruhnya, cukup mengerjakan sebagian besarnya.
  4. Dalam mengambil rukhshah (keringanan) tidak boleh seenaknya, melainkan tetap harus memperhatikan batasan dan contoh dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
  5. Jangan menggunakan kaidah kemudahan ini untuk membenarkan perbuatan yang keliru. Karena ini sama saja meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya.

Demikian uraian mengenai prinsip kemudahan dalam Islam. Setelah uraian ini diharapkan kaum muslimin tidak merasa berat dan sulit dalam menjalankan syariat Islam, atau bahkan mempersulit diri sendiri dengan mengada-adakan perkara baru yang bertentangan dengan syariat Islam. Karena pada dasarnya Islam itu mudah dan dibangun atas dasar prinsip kemudahan dan memudahkan penganutnya, namun tetap berada di dalam batasan yang sudah ditentukan.

Wallahu A'lam...
Semoga Allah memberikan taufiq dan hidayah-Nya bagi kita semua.

* * *

0 Comments