Muflis (Orang yang Bangkrut)

Muflis (Orang yang Bangkrut)


Kebangkrutan yang dimaksud dalam pembahasan ini bukanlah bangkrut di bidang usaha, bisnis atau semisalnya. Bangkrut yang dimaksud adalah dalam urusan akhirat, karena orientasi kehidupan orang-orang beriman bukanlah di dunia, melainkan di akhirat. Sehingga pandangan dan perencanaan yang dilakukan oleh orang beriman adalah untuk mempersiapkan diri di alam akhirat.

Seseorang yang mengalami kebangkrutan dalam hal harta benda dan kekayaan, masih ada peluang baginya untuk bangkit dan mencari harta dengan cara yang lain. Namun jika sudah mengalami kebangkrutan di akhirat nanti, maka tidak ada peluang sedetik pun untuk mencari gantinya.

Lalu seperti apa keadaan orang yang bangkrut di akhirat? Jawabannya ada dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya kepada para sahabat:

أَتَدۡرُونَ مَا الۡمُفۡلِسُ ؟ قَالُوا الۡمُفۡلِسُ فِينَا مَنۡ لَا دِرۡهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ . فَقَالَ إِنَّ الۡمُفۡلِسَ مِنۡ أُمَّتِي يَأۡتِي يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأۡتِي قَدۡ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعۡطَى هَذَا مِنۡ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنۡ حَسَنَاتِهِ فَإِنۡ فَنِيَتۡ حَسَنَاتُهُ قَبۡلَ أَنۡ يُقۡضَى مَا عَلَيۡهِ أُخِذَ مِنۡ خَطَايَاهُمۡ فَطُرِحَتۡ عَلَيۡهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ . – رواه مسلم

"Tahukah kalian, siapa orang yang bangkrut (muflis) itu?” Para sahabat menjawab; “Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham (uang perak) dan harta kekayaan.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya umatku yang bangkrut adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan pahala shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia selalu mencaci-maki, menuduh, dan memakan harta orang lain serta membunuh dan memukul (menyakiti) orang lain. Setelah itu, pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap orang dari mereka yang dizalimi hingga pahalanya habis, sementara tuntutan mereka banyak yang belum terpenuhi. Selanjutnya, sebagian dosa dari setiap orang yang dizalimi diambil untuk dibebankan kepada orang tersebut, hingga akhirnya ia dilemparkan ke neraka.” (Shahih Muslim: 2581 dan At-Tirmidzi: 2418).

Pada hakikatnya, bentuk perbuatan zalim tidak hanya yang disebutkan dalam hadits tersebut. Karena perbuatan zalim adalah perbuatan yang melampaui batas, seperti mengabaikan perintah dan larangan Allah serta menyakiti atau merampas hak-hak orang lain.

وَٱلَّذِينَ يُؤۡذُونَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنٰتِ بِغَيۡرِ مَا ٱكۡتَسَبُواْ فَقَدِ ٱحۡتَمَلُواْ بُهۡتٰنٗا وَإِثۡمٗا مُّبِينٗا ٥٨

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab [33]: 58).

Orang yang menzalimi orang lain sebenarnya sedang menzalimi diri sendiri. Jika perbuatan zalim itu belum diselesaikan di dunia, misalnya dengan meminta maaf atau mengembalikan hak-hak yang diambilnya, maka di akhirat ia akan merasakan kerugian yang amat besar. Karena ketika ia mengharapkan supaya amal shalihnya dapat menolong dirinya, justru hilang menjadi milik orang lain dan ia pun akhirnya dilemparkan ke neraka.

Ragam Kezaliman
Secara umum, bentuk kezaliman dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu kezaliman terhadap hak Allah dan kezaliman terhadap hak manusia.

Kezaliman yang berkenaan dengan hak Allah adalah segala perbuatan yang melanggar larangan Allah dan mengabaikan perintah Allah. Dalam hal ini, kezaliman yang terbesar adalah mempersekutukan Allah, sebagaimana firman Allah:

وَإِذۡ قَالَ لُقۡمٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ ١٣

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar”.” (QS. Luqman [31]: 13).

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلَۢا بَعِيدًا ١١٦

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Allah mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 116).

Dosa syirik tidak akan diampuni oleh Allah jika pelakunya belum sempat bertaubat hingga ajal menjemputnya. Namun jika pelakunya telah bertaubat kepada Allah, maka in sya Allah dosa syiriknya akan diampuni oleh Allah, inilah yang disepakati oleh para ulama.

Sedangkan kezaliman yang berkenaan dengan hak sesama manusia sangat banyak contohnya, di antaranya telah disebutkan dalam hadits di atas. Kezaliman ini biasanya berkenaan dengan darah, harta, kehormatan dan lainnya. Dalam sebuah hadits qudsi dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

يَاعِبَادِي إِنِّي حَرَّمۡتُ الظُّلۡمَ عَلَى نَفۡسِي وَجَعَلۡتُهُ بَيۡنَكُمۡ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوۡا . – رواه مسلم

“Hai hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan diri-Ku untuk berbuat zalim, dan Aku pun mengharamkan kezaliman di antara kamu, maka janganlah saling menzalimi.” (Shahih Muslim: 2577).

Seorang muslim yang baik akan memiliki kepribadian, sikap dan akhlak yang baik pula terhadap orang lain. Dari Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الـمُسۡلِمُ مَنۡ سَلِمَ الۡمُسۡلِمُونَ مِنۡ لِسَانِهِ وَيَدِهِ . – رواه البخاري ومسلم

“Seorang muslim (yang baik) adalah orang yang kaum muslimin lainnya terhindar dari keburukan lisan dan tangannya.” (Shahih Al-Bukhari: 10 dan Muslim: 40).

Hadits lain disebutkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا يُؤۡمِنُ أَحَدُكُمۡ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيۡهِ مَا يُحِبُّ لِنَفۡسِهِ . – رواه البخاري ومسلم

“Tidak beriman salah seorang dari kalian sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (Shahih Al-Bukhari: 13 dan Muslim: 45).

Inilah ajaran dan tuntunan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hubungan sosial bermasyarakat. Islam mengajarkan untuk berakhlak mulia kepada sesama manusia, terutama terhadap sesama muslim. Dilarang menyakiti, merampas hak mereka, mencari dan menyebarkan aib mereka, mencaci, berkata kotor dan sebagainya.

Apabila perbuatan-perbuatan zalim dan tercela itu dilakukan, sementara pelakunya belum meminta maaf atau belum mengembalikan hak yang dirampasnya kepada korbannya hingga salah satu dari mereka atau keduanya meninggal, maka penyelesaiannya akan dilakukan di akhirat. Yaitu dengan cara menggantinya dengan pahala atau memindahkan dosa dari orang yang dizalimi kepada pelaku. Inilah yang membuat orang bangkrut sebagaimana hadits di atas.

Segera Selesaikan di Dunia
Jika seorang hamba terlanjur melakukan kezaliman terhadap orang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk segera menyelesaikan permasalahan tersebut sesegera mungkin, misalnya dengan meminta maaf, meminta dihalalkan atau mengembalikan hak-haknya. Hal ini terdapat dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنۡ كَانَتۡ لَهُ مَظۡلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنۡ عِرۡضِهِ أَوۡ شَيۡءٍ فَلۡيَتَحَلَّلۡهُ مِنۡهُ الۡيَوۡمَ قَبۡلَ أَنۡ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرۡهَمٌ إِنۡ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنۡهُ بِقَدۡرِ مَظۡلَمَتِهِ وَإِنۡ لَمۡ تَكُنۡ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنۡ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيۡهِ . – رواه البخاري

“Siapa yang telah berbuat zalim terhadap saudaranya dalam hal kehormatan atau sesuatu apapun, hendaklah ia meminta kehalalan (maaf) darinya pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari ketika tidak ada dinar dan dirham. Jika tidak, maka apabila ia memiliki amal shalih maka akan diambil darinya sesuai dengan kadar kezalimannya. Jika ia tidak memiliki kebaikan lagi, maka keburukan (dosa) saudaranya yang dizalimi akan dibebankan kepadanya.” (Shahih Al-Bukhari: 2449).

Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اِتَّقُوا الظُّلۡمَ فَإِنَّ الظُّلۡمَ ظُلُمَاتٌ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ . – رواه مسلم

“Takutlah (hindarilah) kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan di hari kiamat.” (Shahih Muslim: 2578).

Kezaliman akan mendatangkan kegelapan bagi pelakunya di hari kiamat. Oleh karena itu, sebagai hamba yang taat kepada Allah hendaknya kita menjauhkan diri dari berbagai perbuatan zalim, karena orang yang zalim akan menghadapi urusan yang sangat menyusahkannya di akhirat nanti. Ingatlah selalu bahwa Allah akan membalas kebaikan meskipun kebaikan itu hanya sebesar dzarrah, dan Allah juga akan membalas keburukan meskipun keburukan itu hanya sebesar dzarrah.

Kesimpulan
Seorang muslim yang baik adalah orang yang memiliki hubungan yang baik kepada Allah (hablum-minallah) dan juga baik kepada sesama manusia (hablum-minannas). Memiliki hubungan yang baik kepada Allah saja tidaklah cukup jika tidak diiringi dengan hubungan yang baik pula kepada sesama manusia.

Wallahu A’lam...

* * *


0 Comments